Tuesday, April 20, 2021
Home News Perangkat Lunak Resmi juga Rentan Serangan Siber

Perangkat Lunak Resmi juga Rentan Serangan Siber

Must Read

Tips Bikin Ramadan yang Menyenangkan dengan HP Sejutaan

Techbiz.id - Ramadan selalu jadi momen berkesan bersama dengan keluarga, teman sekelas dulu maupun sahabat masa kini. Untuk kedua kalinya...

Mudik Dilarang, Tiket.com Ungkap Konsumen Booking Tiket Sebelum Larangan

Techbiz.id - Pemerintah resmi mengumumkan kebijakan larangan mudik tahun ini. Larangan itu tertuang dalam Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan...

WhatsApp Ingatkan Pengguna yang Tak Setuju Kebijakan Baru, Ini Akibatnya

Techbiz.id - Aplikasi perpesanan populer, WhatsApp kembali mengingatkan bahwa waktu yang digunakan untuk menerapkan kebijakan baru dalam menggunakan layanan...

Siap-siap, Clubhouse versi Android Meluncur Bulan Depan

Techbiz.id - Aplikasi Clubhouse sangat melejit pada awal kemunculannya. Namun, Clubhouse hanya bisa dirasakan oleh sejumlah pengguna, khususnya pengguna...

Sambil Ngabuburit, TikTok Ajak Kreator ‘Sama-sama Berbagi’

Techbiz.id - TikTok, platform distribusi video singkat terdepan di Indonesia, menghadirkan program Ramadan bertajuk #SamaSamaBerbagi. Program ini mengajak para...

Techbiz.id – Penggunaan perangkat lunak resmi ternyata tidak selamanya menjamin keamanan siber penggunanya. Berdasarkan laporan dari Kaspersky, sebanyak 30% serangan siber terjadi pada perangkat lunak resmi.

Dalam laporan Kaspersky Global Emergency Response Team disebutkan, karena terjadi pada perangkat resmi, pelaku kejahatan siber bisa tetap tidak terdeteksi untuk jangka waktu yang lebih lama.

- Advertisement -

Serangan yang terjadi biasanya seperti, serangan spionase siber berkelanjutan dan pencurian data rahasia yang memiliki durasi rata-rata selama 122 hari. Temuan ini berasal dari Laporan Analisis Respon Insiden terbaru Kaspersky.

Baca juga: Kaspersky Sarankan 3 Hal ini Untuk E-commerce yang Tangani Jutaan Data

Perangkat lunak pemantauan (monitoring) dan manajemen dapat membantu TI dan administrator jaringan melakukan tugas sehari-hari mereka, seperti pemecahan masalah dan memberikan dukungan teknis kepada karyawan.

Namun, para pelaku kejahatan siber juga dapat memanfaatkan perangkat resmi ini selama terjadi serangan dunia maya di infrastruktur perusahaan. Perangkat lunak ini memungkinkan mereka untuk menjalankan proses pada titik akhir, mengakses dan mengekstrak informasi sensitif, melewati berbagai kontrol keamanan yang bertujuan untuk mendeteksi malware.

Secara total, analisis data anonim dari kasus respon insiden (IR) menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 18 berbagai alat sah yang disalahgunakan oleh aktor ancaman untuk tujuan berbahaya. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah PowerShell (25% kasus).

Alat administrasi yang kuat ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari mengumpulkan informasi hingga menjalankan malware. Disusul oleh PsExec yang dimanfaatkan dalam 22% serangan. Aplikasi konsol ini ditujukan untuk proses peluncuran pada titik akhir jarak jauh. Kemudian diikuti oleh SoftPerfect Network Scanner (14%), yang dimaksudkan untuk mengambil informasi tentang lingkungan sekitar jaringan.

Lebih sulit bagi solusi keamanan untuk mendeteksi serangan yang dilakukan dengan menggunakan alat yang resmi karena tindakan ini dapat dianggap sebagai bagian dari aktivitas kejahatan siber yang direncanakan atau tugas administrator sistem reguler.

Misalnya, pada segmen serangan yang berlangsung lebih dari sebulan, insiden siber memiliki durasi rata-rata 122 hari. Karena mereka tidak terdeteksi, para pelaku kejahatan siber dapat mengumpulkan data sensitif korban.

Namun, para ahli Kaspersky mencatat bahwa terkadang tindakan berbahaya yang menggunakan perangkat lunak sah mengungkapkan dirinya lebih cepat. Sebagai contoh, mereka sering digunakan dalam serangan ransomware, dan kerusakannya terlihat dengan jelas. Durasi rata-rata untuk serangan singkat adalah satu hari.

“Untuk menghindari deteksi dan tetap tidak terlihat dalam jaringan yang disusupi dengan jangka waktu lama, para aktor ancaman banyak menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan untuk aktivitas pengguna normal, tugas administrator, dan diagnostik sistem.

Dengan alat ini, menurut Konstantin Sapronov, Head of Global Emergency Response Team di Kaspersky, mereka dapat mengumpulkan informasi tentang jaringan perusahaan dan kemudian melakukan gerakan lateral, mengubah pengaturan perangkat lunak dan perangkat keras atau bahkan melakukan beberapa bentuk tindakan berbahaya.

Misalnya, mereka dapat menggunakan perangkat lunak yang sah untuk mengenkripsi data pelanggan. Perangkat lunak yang sah juga dapat membantu para aktor ancaman tetap di bawah radar analis keamanan, karena mereka sering mendeteksi serangan hanya setelah kerusakan telah dilakukan.

“Tidak mungkin untuk tidak menggunakan alat ini karena berbagai alasan, namun, sistem logging dan pemantauan yang diterapkan dengan tepat akan membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan di jaringan dan serangan kompleks pada tahap awal,” ucap Konstantin.

- Advertisement -

Artikel Terbaru

Gandeng Reloadly, Tri Sediakan Top-Up Airtime Internasional

Techbiz.id - Tri Indonesia bermitra dengan Reloadly meluncurkan solusi top-up airtime internasional yang akan memberikan akses plug-and-play kepada para pelaku bisnis dan tim pengembangnya untuk bisa...

Artikel Terkait