Thursday, October 1, 2020
Home DigiBiz Investasi di Perusahaan Rintisan yang Mature Masih Layak

Investasi di Perusahaan Rintisan yang Mature Masih Layak

Must Read

Peritel BlibliMart Naik 2,5x Lipat di Semester Pertama 2020

Techbiz.id - Akselerasi adopsi teknologi akibat pandemi telah membuat jumlah seller BlibliMart di Jawa Timur naik meningkat sebanyak 2,5...

Jutaan Ponsel Baru Terancam Tidak Bisa Digunakan

Techbiz.id - Jutaan perangkat ponsel baru terancam akan tidak bisa digunakan menyusul penuhnya kapasitas mesin CEIR yang...

Smartfren Gunakan AI Untuk Layani Pelanggan

Techbiz.id - Smartfren memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) yang terdapat dalam ZSmart Multi-Channel Campaign Management (MCCM) untuk...

Techbiz.id – Di masa pandemik Covid19 seperti saat ini, ternyata tak mengurungi minat angel investor berinvestasi. Bahkan saat ini angel investor tersebut ‘getol‘ investasi di perusahaan rintisan.

Meski mereka tengah giat berinvestasi di perusahaan rintisan, namun azas kehati-hatian tetap dipegang angel investor. Mereka akan selektif melilih perusahaan rintisan yang akan menjadi target investasi mereka.

- Advertisement -

Mantan CEO Indosat Oooredo Tbk yang saat ini berprofesi juga menjadi angel investor, Alexander Rusli mengakui bahwa saat ini masih banyak investor yang mencari perusahaan rintisan. Di luar negeri perusahaan konvensional yang telah besar juga turut berburu perusahaan rintisan.

Bahkan perusahaan tersebutlah yang membuat perusahaan rintisan menjadi lebih besar dan tambah maju. Sebab salah satu peran dari perusahaan konvensional tersebut sebagai ‘bapak angkat’ dari perusahaan rintisan.

Tujuan perusahaan konvensional berinvestasi di perusahaan rintisan selain mencari potensi pendapatan dari non core bisnis yang selama ini digeluti, mereka juga mencari teknologi atau inovasi yang mungkin bisa dikolaborasikan dengan bisnis yang dijalankan selama ini. Namun menurut Alex, perusahaan konvensional tersebut tentunya mencari perusahaan yang tahan terhadap pandemic Covid19 dan rendah resikonya.

Mereka akan memilih perusahaan rintisan yang tidak bakar uang dan memiliki profitabilitas yang jelas untuk beberapa tahun kedepan.

“Investor sekarang lebih selektif. Seperti BCA atau Telkom yang ikut berinvestasi di perusahaan rintisan. Mereka akan sangat berhati-hati dalam berinvestasi di perusahaan rintisan. Ketika mereka akan melakukan investasi tentu melihat resiko dan potensi bisnis yang bisa disinergikan dengan bisnis intinya. Biasanya mereka masuk bertahap. Kalau mereka confidence, investasi besar baru mereka keluarkan. Jadi wajar saja jika saat ini Telkom, BCA atau BRI berinvestasi di perusahaan rintisan,”terang Alex.

Agar meminimalkan resiko berinvestasi di perusahaan rintisan, biasanya perusahaan besar seperti Telkom, BCA dan BRI tak akan masuk stage awal. Mereka akan masuk di stage tengah. Sedangkan Alex sendiri lebih menyukai untuk masuk di stage awal. Alex mengakui masuk di stage awal memiliki resiko dan effort yang lebih. Namun dana yang diinvestasikan tidak besar dan potensi keuntungan yang kemungkinan akan diperoleh akan besar. Agar dapat meminimalkan resiko investasinya, investor harus ikut terlibat langsung di dalam perusahaan rintisan yang dimasukinya.

“Memang ketika masuk di stage awal kita bisa mengatur arah perusahaan. Beda jika kita masuk di stage tengah atau akhir. Akan sulit kita mengatur arah perusahaan. Karena sistim mereka sudah berjalan. Karena sistimnya sudah berjalan dengan baik maka resikonya juga rendah. Karena resiko rendah keuntungan yang didapat juga tak akan eksponensial,”terang Alex.

Alex menceritakan ketika memimpin di perusahaan sebelumnya, ia memutuskan melakukan investasi awal di Grab. Pada saat Alex meninggalkan perusahaan lamanya tersebut, investasi yang ditanamkan di Grab sudah tumbuh 5 kali lipat. Jika investor saat ini ingin berinvestasi di perusahaan yang sudah mature, Alex memperkirakan keuntungannya mungkin tak akan terlalu tinggi lagi.

“Susah saat ini memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh ketika hendak masuk ke perusahan yang sudah mature. Karena valuasi mereka saat ini sudah sangat tinggi. Mencapai USD10 miliar. Meski demikian investor masih berpotensi mendapatkan keuntungan jika saat ini mereka ingin masuk ke perusahaan rintisan yang sudah mature,” pungkas Alex.

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Good Doctor Sediakan KADO untuk Anak Pejuang Kanker

Techbiz.id - Good Doctor bersama dengan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) hari ini meluncurkan inisiatif program...

Gluu Kembangkan Bisnis Garap Sektor B2B

Techbiz.id - Gluu kini mengembangkan layanan bisnisnya dengan melakukan penawaran produknya untuk menggarap sektor B2B. Pengembangan menggarap sektor B2B...

Empat Insan Telkomsel Mendapatkan Satyalancana Wirakarya

Techbiz.id - Empat insan Telkomsel mendapatkan anugerah Tanda Kehormatan Satyalancana Wirakarya karena dianggap telah berkontribusi besar dalam kemajuan sektor telekomunikasi di Indonesia...

Cara Membuat Avatar di Aplikasi Line

Techbiz.id - Pengguna Line kini bisa membuat avatar dirinya untuk mengekspresikan diri serta meningkatkan kreativitas mereka. Fitur ini sudah tersedia untuk pengguna...

Peritel BlibliMart Naik 2,5x Lipat di Semester Pertama 2020

Techbiz.id - Akselerasi adopsi teknologi akibat pandemi telah membuat jumlah seller BlibliMart di Jawa Timur naik meningkat sebanyak 2,5 kali di semester pertama 2020...
- Advertisement -

Artikel Terkait