Saturday, July 24, 2021
Home News Indonesia Butuh 110 Juta Pekerja Digital Baru di 2025

Indonesia Butuh 110 Juta Pekerja Digital Baru di 2025

Must Read

Twitter Hadirkan Caption Otomatis di Voice Tweet

Techbiz.id - Twitter kini menghadirkan fitur caption atau teks otomatis untuk voice tweet atau cuitan berupa audio. "Kami meluncurkan teks...

Artajasa dan Lintasarta Hadirkan Third Party Card Management Pertama Di Indonesia

Techbiz.id - PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) dan PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) menjalin kolaborasi menjadi konsorsium yang didukung oleh...

Cari Talenta Baru, Resso Ajak Musisi Independen Pahami Proses Talent Scouting

Techbiz.id - Ada banyak cara untuk sukses dan menjadi bintang di dunia musik. Kompetisi menyanyi atau band, audisi terbuka,...

Mengintip Spesifikasi Redmi Note 10 5G yang Tiba Pekan Ini

Techbiz.id - Xiaomi memastikan Redmi Note 10 5G akan meluncur pada 22 Juli mendatang. Lantas bagaimana spesifikasi Redmi Note...

Update Harga Samsung Galaxy Note 20 2021, Diskon Sejuta!

Techbiz.id - Samsung Galaxy Note 20 kini dibanderol dengan harga yang lebih terjangkau memasuki pertengahan Juli 2021. Penawaran menarik ini...

Techbiz.id – Amazon Web Services, Inc. (AWS) merilis sejumlah temuan menarik terkait kebutuhan keahlian pekerja digital Indonesia dalam sebuah laporan riset terbaru bertajuk “Unlocking APAC’s Digital Potential: Changing Digital Skill Needs and Policy Approaches”.

Laporan ini menyajikan beragam analisis mengenai jenis-jenis keahlian yang diterapkan oleh pekerja masa kini dan memprakirakan jenis-jenis keahlian digital yang nantinya akan sangat dibutuhkan oleh angkatan kerja dalam kurun waktu lima tahun mendatang di enam negara Asia Pasifik – Indonesia, Australia, India, Jepang, Singapura dan Korea Selatan.

“Riset yang kami prakarsai ini menyoroti adanya kebutuhan untuk meningkatkan penguasaan teknologi cloud, bahkan di sektor-sektor nonteknologi, seperti di bidang manufaktur, bagi pekerja di Indonesia,” ucap Managing Director for ASEAN, Worldwide Public Sector, Amazon Web Services, Tan Lee Chew.

Baca juga: Akhir 2021 AWS Buka Pusat Data di Indonesia, Ini Manfaatnya

Salah satu temuan menarik dari riset tersebut adalah sebanyak 59 persen pekerja digital di Indonesia yang saat ini belum mengoptimalkan penerapan kecakapan mereka di bidang komputasi awan menyebutkan bahwa nantinya di tahun 2025 jenis-jenis keahlian tersebut akan sangat dibutuhkan dalam pekerjaan mereka masing-masing.

Selain dari negara-negara lain, riset juga melibatkan lebih dari 500 pekerja digital di Indonesia yang disusun dari wawancara dengan sejumlah pakar teknologi, pemimpin bisnis, hingga para pembuat kebijakan.

pekerja digital indonesia
Managing Director for ASEAN, Worldwide Public Sector, Amazon Web Services, Tan Lee Chew.

Dari riset tersebut terungkap bahwa pekerja-pekerja yang sudah mempunyai keahlian di bidang digital baru mencapai 19 persen dari seluruh angkatan kerja yang ada di Indonesia.

Di sisi lain, untuk mendukung perekonomian dibutuhkan lebih dari 110 juta pekerja digital baru di tahun 2025 agar mampu selaras dengan setiap dinamika perubahan teknologi di masa depan.

Laporan ini juga menyoroti akan pentingnya penguasaan beragam jenis keahlian bagi Indonesia, seperti komputasi cloud, serta menyampaikan bahwa jenis-jenis kecakapan seperti cloud architecture design, cybersecurity, large-scale data modeling, web/software/game development, dan software operations support akan menjadi primadona dan paling dibutuhkan di tahun 2025.

Rata-rata pekerja Indonesia juga nantinya perlu mengembangkan tujuh kecakapan digital mutakhir dalam kurun waktu lima tahun ke depan agar mereka mampu selaras dengan dinamika perkembangan dan kebutuhan teknologi di masa depan.

Kecakapan tersebut mencakup sejumlah kecakapan digital dasar, seperti mulai memelajari bagaimana menggunakan platform komunikasi daring, perangkat lunak untuk mendukung kolaborasi, hingga kecakapan-kecakapan digital tingkat lanjut, seperti desain arsitektur cloud.

Dibutuhkan sekitar 946 juta pelatihan kecakapan digital atau digital skill training di tahun 2025 agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang kian inklusif.

Riset ini menyoroti pentingnya penguasaan di bidang cloud bagi sektor-sektor nonteknologi, seperti manufaktur, terlebih setelah dicanangkannya visi ‘Making Indonesia 4.0’ melalui percepatan realisasi pengadopsian digital.

Menurut riset ini pula, 43 persen pekerja digital di sektor manufaktur juga meyakini bahwa akan dibutuhkan kecakapan baru di bidang desain arsitektur cloud yang wajib mereka kuasai, seiring meningkatnya pengadopsian teknologi di sektor tersebut dalam mendukung terwujudnya rantai suplai yang kian optimal, serta menimbang kondisi peranti-peranti yang ada saat ini.

Bahkan, 48 persen pekerja digital di sektor manufaktur yang saat ini belum menguasai kecakapan di bidang pemodelan data dalam skala besar yakin bahwa, nantinya di tahun 2025, mereka perlu mengantongi jenis keahlian seperti ini. 

Insight yang mereka dapatkan dari data dan analitik akan membantu sektor manufaktur dalam menentukan waktu yang tepat dalam melakukan pemesanan di rantai suplai industri. Teknologi ini mendukung mereka dalam memperhitungkan kebutuhan untuk melakukan perawatan mesin atau pemeliharaan perangkat yang lebih antisipatif.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Pengguna Vivo Sudah Bisa Nikmati 5G, Begini Caranya

Techbiz.id - Pengguna smartphone Vivo yang telah mendukung jaringan 5G, yaitu vivo V21 5G, vivo X60, dan vivo X60...