Kamis, September 23, 2021
Beranda News Mata-mata Siber Cina Incar Operator Telko, Indonesia Harus Waspada

Mata-mata Siber Cina Incar Operator Telko, Indonesia Harus Waspada

Must Read

Punya Fitur Lengkap, Neo QLED 8K TV Samsung Meluncur di Indonesia

Techbiz.id - Samsung Electronics Indonesia resmi meluncurkan Neo QLED 8K TV yang diklaim menghadirkan pengalaman menonton tak tertandingi dan kualitas sound yang...

Redmi Janjikan Kamera Mikroskop di Smartphone Baru

Techbiz.id - Perangkat baru Redmi generasi mendatang bakal memiliki kamera mikroskop. Hal ini disampaikan oleh Direktur Produk Redmi Wang...

Harganya Rp 11 Jutaan, Ini Spesifikasi Realme Book di Indonesia

Techbiz.id - Realme akhirnya resmi merilis laptop perdananya, Rabu (18/8/2021). Dijual dengan harga Rp 11 jutaan, bagaimana spesifikasi realme...

Indikasi Samsung Garap Tablet Lipat ‘Galaxy Z Fold Tab’

Techbiz.id - Samsung telah mengelompokkan smartphone yang dapat dilipat di bawah jajaran Z, hingga akhirnya ada bukti yang berkembang...

Kehabisan Baterai Smartphone Bisa Timbulkan Phobia

Techbiz.id - kehabisan baterai smartphone ternyata dapat menimbulkan phobia. Maka wajar saja, kapasitas dan daya tahan baterai kerap menjadi...

Solusi Smart Manufacturing Indosat Tingkatkan Produktivitas

Techbiz.id - Indosat Ooredoo menghadirkan sebuah inovasi IoT (Internet of Things) terbaru yaitu “IoT Smart Manufacturing”, layanan yang dapat...

Techbiz.id – Mata-mata Siber Cina dikabarkan kini mengincar operator telekomunikasi yang berada di seluruh Asia, Eropa, dan AS. Grup, yang dikenal di komunitas keamanan siber sebagai Mustang Panda atau RedDelta, telah menargetkan karyawan perusahaan telekomunikasi dengan tujuan akhir mencuri informasi terkait 5G.

Dilansir dari situs The Record, menurut laporan teknis yang diterbitkan oleh McAfee yang berjudul “Operation Diànxùn”, disebutkan, grup Mustang Panda mengarahkan karyawan telekomunikasi untuk emngakses situs yang menyerupai halaman karier Huawei.

Situs phishing tersebut akan meminta pengguna untuk menginstal pembaruan perangkat lunak Flash yang dihosting di situs berbahaya, dan file ini nantinya akan mengunduh dan menginstal bacdoor .NET, yang akan berkomunikasi dengan infrastruktur jarak jauh penyerang melalui suar Cobalt Strike.

McAfee mengatakan inti dari serangan ini adalah untuk mendapatkan pijakan di jaringan internal perusahaan telekomunikasi.

“Kami percaya bahwa kampanye spionase ini bertujuan untuk mencuri informasi sensitif atau rahasia terkait dengan teknologi 5G,” kata McAfee.

Lebih lanjut disampaikan McAfee bahwa motivasi di balik serangan ini berkaitan dengan larangan teknologi Cina dalam peluncuran 5G global.

Baca juga: Perang Dagang Cina Vs Amerika Terus Berlanjut

Beberapa negara yang menjadi target mata-mata siber Cina seperti grup Mustang Panda disebutkan telah membuat pernyataan publik bahwa mereka bermaksud untuk melarang atau membatasi keterlibatan Huawei dalam pembangunan jaringan 5G nasional mereka, seperti AS, Spanyol, dan Italia. Namun, serangan juga terlihat di negara-negara di mana Huawei telah menandatangani kontrak peluncuran 5G.

Indonesia harus waspada

Menurut Chairman Indnesia Ciber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja, perusahaan teknologi asal China memang saat ini sudah menguasai Infrastruktur kritis telekomunikasi dan data Indonesia dari hulu ke hilir bahkan hingga last mile.

Hal ini menurutnya tidak bisa dihindari mengingat tidak banyak perusahaan teknologi global yang siap dengan teknologi mereka untuk memasuki pasar ditambah harga yang sangat kompetitif.

“Monopoli” atau dominasi infrastruktur seperti ini menurut Ardi juga tidak baik untuk redundancy karena menimbulkan leverage yang sangat kuat terhadap para operator telekomunikasi dan regulator untuk bisa mengikuti kemauan para penyedia tehnologi ini bahkan hingga regulasi yang justru menguntungkan pihak penyedia tehnologinya.

“Hal ini sudah bukan rahasia lagi di kalangan industri telekomunikasi. Hal-hal seperti ini jelas akan sangat menganggu dan menghambat upaya-upaya Indonesia untuk bisa memasuki era kemandirian teknologi mengingat dominasi seperti diatas sudah membuat kita saling memiliki ketergantungan satu sama lain,” jelasnya.

Dominasi teknologi yang demikian menurutnya membuat perusahaan telko dan masyarakat tidak memiliki pilihan lain kecuali beraktivitas di atas infrastruktur kritis miliki penyedia teknologi tersebut sehingga semua aktivitas telekomunikasi dan transmisi data kita akan mudah diketahui dan “diintip”.

“Meskipun saya meyakini bahwa hal ini bukan niat dari penyedia teknologi tersebut namun kita juga harus menyadari bahwa si penyedia tehnologi ini di negara asalnya juga memiliki berbagai kewajiban “kenegaraaan” yang kita tidak pahami sehingga ini pun seharusnya menjadi kewaspadaan bagi kita semua,” kata Ardi.

Melihat keadaan yang demikian, hampir dapat dipastikan negara kita akan atau bahkan sudah menghadapi masalah di dalam menjaga lalu lintas transmisi data dan informasi yang gencar berlalu lalang di ruang siber nasional.

“Menurut hemat saya, harus disiasati sejak awal untuk membatasi monopoli tersebut agar juga membuka peluang bagi perusahaan penyedia teknologi lainnya dari negara-negara lain. Selain itu, kita perlu juga segera mendorong agar perusahaan penyedia tehnologi ini agar membuka tehnologimya agar bisa diaudit secara independent oleh baik regulator kita maupun lembaga-lembaga riset baik dari perguruan tinggi maupun intelijen kita,” tegasnya.

Terkait

Artikel Terkait

Terbaru

Oppo A16 Kini Hadir dengan RAM 4GB

Techbiz.id - Dirilis pada Juli lalu, Oppo kini menambah kapasitas RAM dan memori yang lebih besar untuk Oppo A16,...