Saturday, July 24, 2021
Home News Teknologi XDR Jadi Tren Keamanan Siber Baru

Teknologi XDR Jadi Tren Keamanan Siber Baru

Must Read

Cari Talenta Baru, Resso Ajak Musisi Independen Pahami Proses Talent Scouting

Techbiz.id - Ada banyak cara untuk sukses dan menjadi bintang di dunia musik. Kompetisi menyanyi atau band, audisi terbuka,...

Instagram Stories Kini Mampu Terjemahkan Lebih dari 90 Bahasa

Techbiz.id - Dengan popularitas Instagram yang mencapai tingkat global, sebagian Kalian mungkin saja akan menemukan Stories dengan bahasa asing...

Rekomendasi Hp Xiaomi dengan Empat Kamera Terbaru 2021

Techbiz.id - Xiaomi memiliki sejumlah handphone (hp) yang dibekali dengan empat kamera. Kehadiran empat kamera itu merupakan perpaduan dari...

Update Harga Huawei Nova 7 Juli 2021, Turun Sejuta!

Techbiz.id - Memasuki akhir Juli 2021, terjadi penurunan harga dari Huawei Nova 7 yang rilis di Indonesia. Perubahan tersebut terbilang...

Samsung Galaxy M21 2021 Edition Meluncur dengan 48MP Triple Camera

Techbiz.id - Usai setahun sejak dirilis pada Maret 2020 lalu, Samsung memperkenalkan varian baru dari Galaxy M21 di 2021....

Techbiz.id – Menghadapi tantangan yang dijumpai oleh perusahaan dan bisnis di masa pandemi ini, kalangan Industri mulai melirik tren baru keamanan siber teknologi XDR (eXtended Detection & Response) sebagai jawaban atas berbagai tantangan tersebut.

Inovasi ini sudah muncul sejak akhir 2020, tapi mulai memuncak kepopulerannya karena dianggap sebagai sistem yang bisa menyatukan seluruh permukaan yang rentan terhadap ancaman keamanan siber, mulai dari web, cloud, data, jaringan dan banyak lagi, ke dalam satu kendali sehingga operasional keamanan dalam perusahaan bisa lebih efisien dan produktif.

Perbedaan mendasar teknologi XDR dengan sistem keamanan lama SIEM (Security Information and Event Management) adalah tampilan “single pane” atau panel tunggal, yang menyerupai dasbor, sehingga personil keamanan bisa melihat semua hal yang terjadi dalam on-premis ataupun juga dalam cloud secara mudah dan terpadu, dan bisa dilakukan dari mana saja, sehingga optimal untuk situasi kerja remote seperti sekarang ini.

XDR bergantung pada kompleksitas dari sistem keamanan yang sudah ada sebelumnya dalam perusahaan, tapi kelebihannya adalah bisa mengumpulkan dan mengkorelasikan data dari berbagai produk sistem keamanan siber yang berbeda-beda.

Baca juga: McAfee Ungkap Perubahan Pola Pikir Masyarakat Digital

Menurut Jonathan Tan, Managing Director Asia McAfee, kebutuhan akan XDR sangat bergantung pada jenis, skala dan kompleksitas perusahaan.

Jika perusahaan tersebut belum membutuhkan pengawasan terhadap keamanan endpoint, lebih baik mulai membangun keamanan siber mendasar terlebih dahulu. Tapi jika bisnis sudah semakin berkembang dan kompleks, penggunaan XDR jelas memberikan berbagai keuntungan dan mengurangi kompleksitas.

“Walau demikian, sangatlah baik untuk mulai mempertimbangkan penggunaan XDR sejak dini agar operasional keamanan dalam perusahaan tidak kewalahan menghadapi jumlah dan jenis ancaman siber yang akan semakin beragam di masa yang akan datang, terutama jika skala bisnis nantinya sudah semakin besar dan kompleks,” jelasnya.

McAfee Corp melihat bahwa di berbagai belahan dunia, serangan terhadap layanan cloud dan teknologi kolaborasi ternyata meningkat signifikan sebesar 630%, yang didorong oleh kembalinya masyarakat di berbagai belahan dunia bekerja secara remote/jarak jauh, dan menerapkan WFH (Work From Home).

Akibat dari pandemi yang berkepanjangan, berbagai perusahaan pun memaksa diri untuk bertransformasi digital dan menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel.

Data IDC memperlihatkan bahwa sejak awal pandemi, penggunaan cloud meningkat sebesar 40%. Alhasil, banyak celah keamanan yang timbul dari penggunaan layanan cloud dan teknologi kolaborasi seperti Microsoft 365, Webex, Zoom, Teams ataupun Slack.

Beberapa insiden keamanan yang terjadi di Indonesia antara lain peretasan akun dan penyebaran situs penipuan di Bali, sampai dengan kebocoran data penduduk dari lembaga pemerintah.

Dalam laporan yang ditunjukkan oleh studi yang dilakukan oleh ESG (Enterprise Strategy Group) yang menemukan bahwa lebih dari 75% perusahaan yang disurvei dalam masa pandemi ini merasa kesulitan menangani berbagai data yang berbeda sumber untuk mencari dan mencegah serangan keamanan siber.

Dari sisi sumber daya, survei tersebut menemukan bahwa 75% dari perusahaan tidak mampu merekrut ataupun menemukan orang-orang yang memiliki keahlian operasional dan analisis keamanan yang memadai.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

Pengguna Vivo Sudah Bisa Nikmati 5G, Begini Caranya

Techbiz.id - Pengguna smartphone Vivo yang telah mendukung jaringan 5G, yaitu vivo V21 5G, vivo X60, dan vivo X60...