Jumat, Desember 9, 2022

Transformasi Digital Wajib Dilakukan Sekarang atau Tidak Sama Sekali

Techbiz.id – Transformasi digital menjadi suatu keharusan untuk berbagai industri saat ini. Meski sekarang dirasa tidak selalu menguntungkan. Sebab itu, tidak heran jika transformasi digital ini disebut sebagai necessary evil.

Kita punya dua pilihan yang keduanya sama-sama rugi. Tinggal memilih saja mana yang lebih sedikit ruginya. Bicara soal transformasi digital dalam bisnis, tentunya opsi yang diambil adalah pilihan yang less pain untuk perusahaan.

Hal tersebut disampaikan oleh Iwan setiawan, CEO Marketeers dalam pembukaan Marketeers Tech for Business bertajuk Digital Transformation: Now or Never di Starium, CGV Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (22/11/2022). “Saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan transformasi digital. Setelah lebih dari dua tahun diterpa pandemi, kita diajari bahwa transformasi digital merupakan sebuah keharusan. Apakah itu menguntungkan atau tidak, yang jelas melakukan transformasi digital lebih baik bagi perusahaan ketimbang tidak melakukan sama sekali,” ujar Iwan.

Marketeers Tech For Business merupakan event tahunan yang digelar oleh Marketeers dengan menghadirkan para pemain industri dan perusahaan teknologi dalam diskusi seputar transformasi digital. Perusahaan teknologi maupun nonteknologi berbagi cerita tentang implementasi teknologi yang mendorong perubahan dalam organisasi mereka. Diskusi berfokus pada pandangan pelaku bisnis dari perspektif teknologi informasi.

Tech for Business kali ini mengusung tiga tema turunan, yakni digital mindset, digital marketing, dan digital CX. Ketiganya menjadi modal utama sebuah perusahaan atau organisasi melakukan transformasi digital. Sebelum melakukan transformasi digital, misalnya, perusahaan perlu melakukan transformasi pola pikir. Pola pikirnya harus digital lebih dulu dengan membangun kultur kerja yang gesit (agile), terukur, dan berdampak.

Selain itu, terkait digital marketing, perusahaan perlu menyadari bahwa prinsip-prinsip dasar marketing konvensional tetap dipegang. Digital marketing tidak meninggalkan prinsip-prinsip marketing konvensional, tetapi mengintegrasikan antara online dan offline, human dan technology.

“Bicara soal digital marketing, erat hubungannya dengan banyak data. Sementara big data itu ibarat inventori yang kalau disimpan saja di gudang menjadi tidak ada gunanya. Di sisi lain, Anda tidak perlu memiliki banyak server juga. Fokus lah ke dalam membuat personalized experience yang di era ini menjadi kian penting,” ungkap Megawaty Khie, Country Director Google Cloud Indonesia di panggung Tech for Business.

Marketeers Tech for Business menegaskan bahwa dalam proses transformasi digital, integrasi peran manusia dan mesin tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Transformasi digital tidak melulu soal teknologi, tetapi lebih mengarah pada kolaborasi antara peran manusia dan mesin yang pada dasarnya komplementer atau saling melengkapi.

Dalam kesempatan ini, Iwan Setiawan memperkenalkan tahapan digitalisasi dari tahap dasar seperti diusung dalam Marketing 4.0, seperti human-centric marketing, content marketing, engagement marketing, dan omnichannel marketing, ke tahap digitalisasi yang lebih maju yang terangkum dalam konsep Marketing 5.0: Technology for Humanity. Marketing 5.0 terdiri dari lima elemen, yakni data driven marketing, predictive marketing, contextual marketing, augmented marketing, dan agile marketing.

“Tiga elemen pertama tersebut kami golongkan ke dalam sebutan aplikasi dan dua elemen terakhir kami sebut dengan disiplin. Dua disiplin ini menjadi fondasi untuk menjalankan tiga aplikasi di atasnya,” kata Iwan.

Terdapat 22 pembicara yang terbagi ke dalam panggung Plenary saat opening session, dan tiga breakout room. 22 pembicara ini, meliputi Megawaty Khie, Country Director Google Cloud Indonesia; Alfred Surya, Partner Manager MessageBird; Rudi Hidayat, Founder & CEO V2 Indonesia; Adji Watono, Chairman dentsu Indonesia; Cindy Gozali, Managing Director The Golden Space; Elvira Jakub, Head of Industry Google Indonesia; Roy Nugroho, Director of Grab for Business Grab Indonesia; dan Primarini, SVP Shared Services PT Pertamina (Persero); Wasudewan, CEO 99 Group Indonesia.

Hadir pula Jockie Heruseon, VP Business Development & Innovation Telkomsel; Mahesh Agarwal, Co-Founder & Managing Director Neurosensum; Daniel Hartono, CTO V2 Indonesia; Jimmy Yogaswara, CEO & Founder SOCA AI; Vivek Thomas, Managing Director PT Aisensum Bigdata Analytics; Setiaji, Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI; Shieny Aprilia, CEO Agate; Andreas, Chief Creative Officer dentsu Indonesia; Ignatius Untung, Behavioral Marketing Practitioner; Gupta Sitorus, Chief Sales & Marketing Officer WIR Group; Alvin Julian. Solution Engineer MessageBird; dan Irene Santoso, Head of Consumer Business Customer Value Management Bank Jago.

Hadirkan pengalaman teknologi baru

Selain berisi belasan program seminar, TFB juga menghadirkan pengalaman mencoba berbagai teknologi yang dibawa oleh para partner, sepert XR Studio dan Proto Hologram dari V2 Indonesia, dan Live Avatar besutan SOCA AI yang dapat dinikmati oleh para peserta acara dan pengunjung CGV Grand Indonesia.

Marketeers Tech for Business sukses digelar berkat dukungan para partner, seperti Google Indonesia, V2 Indonesia, MessageBird, dan para sponsor, seperti Pertamina, My Pertamina, Dwi Sapta, dentsu Indonesia, Aisensum, Telkomsel, Infobip, dan para partner lainnya.

“Saya cukup wondering, sampai dengan akhir acara, 90% dari para peserta masih bertahan di CGV Indonesia. Melihat antusiasme ini, kami akan menggelar kembali Marketeers Tech for Business tahun depan. Sampai jumpa,” tutup Iwan.

Terkait

Artikel Terkait

UMKM Butuh Identitas Digital untuk Integrasi Digital

Techbiz.id - Pada proses digitalisasi UMKM, identitas digital dipercaya dapat menjadi kunci UMKM dalam mengakses berbagai layanan platform digital....