Minggu, Oktober 17, 2021
Beranda Telco Punya Potensi Besar, Penetrasi Fixed Broadband Indonesia Masih Lambat

Punya Potensi Besar, Penetrasi Fixed Broadband Indonesia Masih Lambat

Must Read

Tawaran Telkomsel dan Smartfren Tertinggi di Lelang 2,3Ghz

Techbiz.id - Telkomsel dan Smartfren dinyatakan lolos dalam seleksi harga lelang frekuensi 2,3Ghz oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI....

Mengatur Rumah Pintar dengan SmartThings

Techbiz.id - Samsung Galaxy S21 Series 5G hadir dengan sederet fitur-fitur yang dapat mempersiapkan setiap penggunanya untuk masa depan....

LinkAja Sediakan Metode Pembayaran di Moinves

Techbiz.id - LinkAja bekerjasama dengan Mandiri Investasi dengan menjadi penyedia metode pembayaran Reksa Dana di aplikasi milik Mandiri Investasi...

Kantongi TKDN, 3 Smartphone Samsung Akan Rilis di Indonesia?

Techbiz.id - Samsung tampaknya bersiap merilis perangkat baru di Indonesia. Tiga Smartphone Samsung kembali muncul di dalam situs sertifikasi...

Indosat Ooredoo Sediakan Platform untuk Distribusi Kuota

Techbiz.id - Indosat Ooredoo memberikan solusi teknologi untuk membagikan kuota internet ke peserta didik dan pengajar secara massive dan...

Blanja.Com Ajak Millenials Berinvestasi

TechBiz.ID - Blanja.com berkolabrasi dengan Invisee dan Finpay menghadirkan fitur investasi yang aman dan mudah semudah berbelanja. Hadirnya fitur...

Techbiz.id – Indonesia merupakan negara dengan pasar fixed broadband yang sangat potensial dan menggiurkan di kawasan Asia Tenggara. Namun penetrasi jaringan ini begitu lambat di tanah air sehingga dibutuhkan komitmen dari para pelaku industrinya.

Berdasarkan data World Bank, penetrasi pasar fixed broadband atau jaringan koneksi internet berbasis pita lebar tetap di Indonesia pada 2021 masih sangat kecil, yakni baru mencapai 4%. Padahal, dunia semakin digital dan koneksi internet yang stabil amat dibutuhkan.

Menurut Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, persoalannya adalah, berbeda dengan negara lain yang lebih kecil dan bukan negara kepulauan, menggelar jaringan fixed broadband di Indonesia, yang terdiri dari 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke, sangatlah tidak mudah.

“Dibutuhkan komitmen yang besar dan keberanian dalam mengambil risiko bagi perusahaan ISP untuk menggelar jaringan fixed broadband di Tanah Air. Sebab, setidaknya ada empat faktor yang mengharuskan perusahaan ISP menaruh komitmen besar untuk itu,” ungkapnya.

Pertama, membutuhkan cost of investment yang cukup mahal. Karena Indonesia amat luas dan berkepulauan, maka perusahaan ISP harus siap dengan modal besar untuk membangun jaringan fixed broadband, termasuk backbone dan kabel laut, demi menjangkau pelanggan yang lebih banyak.

Kedua, kebutuhan pasar yang bersifat lokal. Meski dunia digital bersifat tanpa batas, kebutuhan pasar antardaerah cenderung berbeda-beda sehingga harus dilayani secara berbeda-beda pula. Ketiga, pemain lokal yang tak sedikit mengakibatkan kompetisinya tak kalah sengit.

Baca juga: Telkom Bangun Kota Broadband Hingga Ke Pelosok

Keempat, tingkat return on investment-nya lama. Karena berbekal modal yang besar dengan tingkat kompetisi pasar yang ketat, maka perusahaan ISP harus siap memperoleh return on investment atau tingkat pengembalian investasi dalam jangka waktu lama.

Empat faktor itulah yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan ISP berbasis teknologi fixed broadband yang sudah ada, bahkan diyakini juga dirasakan oleh pemimpin pasar (market leader) seperti IndiHome yang ditawarkan PT Telkom Indonesia Tbk. (IDX: TLKM) sekalipun.

“IndiHome, meski sudah menguasai 81% pangsa pasar fixed broadband nasional, saya yakin juga tidak sedang dalam kondisi tenang-tenang saja,” tambah Albertus Edy Rianto, Senior Manager Spire Research and Consulting, di Jakarta, Rabu (15/9).

Sebagai perusahaan pelat merah, IndiHome juga harus menjaga konsistensi dan meningkatkan layanan demi memberikan pengalaman pelanggan (customer experience) yang lebih baik lagi, memperbaiki cost per bandwidth, dan lain sebagainya.

Langkah itu mesti dilakukan di tengah budaya konsumen yang seringkali membandingkan antarlayanan secara tidak apple-to-apple, baik dari sisi penggunaan serverbandwidth, maupun kondisi saat pemakaian secara bersamaan (concurrent access), yang penting lebih cepat atau harganya lebih murah. 

Namun, di sisi lain, kata Edy, tuntutan-tuntutan itu tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli (spending power) pelanggan. Sehingga, pasar fixed broadband di Indonesia yang besar tapi membutuhkan upaya (effort) yang besar pula bagi perusahaan ISP untuk menggarapnya.

Memang belakangan ini banyak gedung perkantoran dan kawasan kota mandiri di Tanah Air yang menawarkan jaringan fixed broadband kepada para penyewa atau pembelinya, tapi skalanya masih sangat kecil.

Karena itu, dibutuhkan kebijakan yang komprehensif dari pemerintah untuk mempercepat penetrasi pasar fixed broadband nasional. “Salah satu caranya, barangkali dengan menerapkan model infrastructure sharing seperti halnya base transceiver station [BTS] di telekomunikasi seluler,” pungkas Edy.

Terkait

Artikel Terkait

Terbaru

Super Lengkap! Ini Daftar Paket Internet Smartfren Oktober 2021

Techbiz.id - Kabar baik bagi kamu pelanggan Smartfren. Pasalnya, per Oktober 2021, Smartfren memberikan banyak penawaran paket internet menarik...