Senin, Juni 14, 2021
Beranda Telco Belum Dapat Pendanaan, Kemenkominfo Diminta Batalkan SATRIA

Belum Dapat Pendanaan, Kemenkominfo Diminta Batalkan SATRIA

Must Read

Dirilis Lusa, Inikah Harga Xiaomi Mi 11 Lite di Indonesia?

Techbiz.id - Xiaomi memastikan Mi 11 Lite akan menyambangi Indonesia pada 15 Juni mendatang. Namun, sebelum itu, kita bisa...

Perbarui Kebijakan, TikTok Bakal Kumpulkan Data Biometrik

Techbiz.id - Platform video pendek, TikTok mulai memperbarui kebijakan privasi mereka. Bagi Kalian penggemar TikTok sebaiknya perlu memperhatikan pembaruan...

Terungkap, Begini Wujud Oppo Reno6 yang Segera Meluncur

Techbiz.id - Oppo Reno6 dipastikan bakal menyambangi Indonesia dalam waktu dekat. Kini jelang peluncuran, wujud dari Reno6 tersebut telah...

Tampil Lebih Menarik, iPhone 13 Bakal Punya Warna Baru

Techbiz.id - Berbeda dari lini seri sebelumnya, iPhone 13 tampaknya akan memiliki varian warna baru. Jika iPhone 12 saat...

Gelar Super Service Day, OPPO Tawarkan Banyak Diskon

Techbiz.id - Tidak hanya menghadirkan perangkat dengan desain dan fitur yang diinginkan oleh konsumen Indonesia, OPPO juga mengedepankan layanan...

Techbiz.id – Demi memenuhi komitment peluncuran Satelit Republik Indonesia (Satria) era Menkominfo Rudiantara, Kementrian Komunikasi dan Informatika terus berusaha untuk mencari pembiayaannya. Hal tersebut terkuak ketika rapat kerja Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate dengan Komisi I DPR-RI.

Menteri Johnny mengatakan, Kemenkominfo menargetkan financial closing selesai dilakukan kuartal pertama tahun 2020. Padahal financial closing pengadaan dan peluncuran seharusnya selesai pada akhir tahun 2019 yang lalu. Sehingga perakitan dapat dilakukan pada akhir Desember 2019 yang lalu.

- Advertisement -

Uchok Sky Khadafi, Direktur Center For Budget Analysis (CBA), mengatakan bahwa jika pemerintah tidak bisa mendapatkan pendanaan, sudah seharusnya Kemenkominfo membatalkan program satelit SATRIA yang dikelola oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) tersebut.

“Saya yakin dana USO yang didapatkan oleh BAKTI tidak mencukupi untuk membayar kewajiban pembiayaan satelitnya. Oleh sebab itu Kemenkominfo mencarikan pembiayaan. Jika memang ngak sanggup mencari dana mending dibatalkan saja proyek satelit BAKTI,”terang Uchok.

Lanjut Uchok, dalam menggelola satelit untuk daerah USO, seharusnya BAKTI yang mengambil peran lebih dengan memanfaatkan dana USO yang ada. Bukan malah menyerahkan kepada swasta dan membebankan kepada negara.

Logikanya jika BAKTI masih mencari investor untuk proyek SATRIA artinya ini adalah proyek yang ekonomis. Karena proyek ekonomis, seharusnya tidak layak dibiayai dengan dana USO. BAKTI jangan menyandera dan menjerumuskan Menkominfo dengan mencarikan pendanaan dari swasta yang akan membebani anggaran negara dikemudian hari.

“Pemerintah harusnya mengoptimalkan pendanaan dari dana USO yang ada. Sehingga tidak membebankan keuangan negara di masa mendatang. Jika ngak ada investor yang mau membayari investasi tersebut jangan dipaksakan. Mending dibatalkan saja,” pinta Uchok.

Dalam keterangan yang disampaikan Menkominfo di DPR disebutkan bahwa investasi (CAPEX) untuk pengadaan satelit SATRIA yang dimiliki oleh BAKTI menelan dana Rp 6,42 triliun. Sementara biaya ketersediaan layanan pertahunnya, BAKTI harus menggeluarkan dana paling tidak Rp 1,4 triliun. Agar satelit SATRIA ini dapat beroperasi memberikan layanan telekomunikasi, Kemenkominfo juga harus menggeluarkan biaya pengadaan ground segment yang jumlahnya 150 ribu unit. Biaya pengadaan ground segment ini sangat besar, bisa lebih dari 3 kali biaya ketersediaan layanan satelit, namun sayangnya hal ini tidak pernah diungkap secara terang benderang ke publik.

Data 150 ribu titik yang akan dihubungkan SATRIA masih belum divalidasi kebenarannya. Tidak ada koordinasi antara BAKTI dengan pihak calon pengguna SATRIA. Dengan masih mentahnya perencanaan BAKTI, bisa dipastikan utilisasi SATRIA akan sangat rendah. Sementara itu, Pemerintah diwajibkan membayar availability payment sebesar Rp 1,4 triliun per tahun selama 15 tahun kepada konsorsium pemenang proyek SATRIA. Beda cerita jika BAKTI menyewa kapasitas satelit sesuai kebutuhan, dimana pembayaran juga dilakukan sesuai dengan kapasitas satelit yang terpakai.

BAKTI harusnya bisa belajar dari proyek Palapa Ring yang telah mereka gelar di 57 Kabupaten/ Kota. Hingga saat ini, utilisasi Palapa Ring masih sangat rendah. Palapa Ring Barat hanya terutilisasi 27%, Palapa Ring Tengah baru terutilisasi 7,6%, sedangkan utilisaisi Palapa Ring Timur adalah 0%. Walaupun demikian, Pemerintah tetap harus membayar availability payment kepada konsorsium pemenang proyek Palapa Ring. Sudah jelas, ini adalah bentuk pemborosan APBN.

Skema pembayaran satelit SATRIA BAKTI melalui skema penggembalian investasi (availability payment) nilai investasi (CAPEX) dan biaya ketersediaan layanan dinilai Uchok sangat memberatkan keuangan negara.

Dengan financial closing yang gagal dirampungkan di akhir tahun 2019 dan ketidakjelasan rencana pemanfaatan SATRIA serta besarnya potensi pemborosan APBN, proyek SATRIA yang diinisiasi oleh BAKTI benar-benar telah menjadi bom waktu bagi Kemenkominfo di era kepemimpinan Johnny G Plate. Oleh karena itu, Kemenkominfo diminta bertindak tegas untuk membatalkan SATRIA.

Lanjut Uchok, jika Kemenkominfo tetap melanjutkan proyek ini, maka pemerintah akan dirugikan dan swasta yang akan diuntungkan. Pengamat anggaran pemerintah ini menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh BAKTI sangat aneh. Padahal disamping harga teknologi satelit semakin terjangkau kedepannya, BAKTI juga masih bisa memilih skema dimana negara hanya membayar sesuai kapasitas satelit yang terpakai.

- Advertisement -

Artikel Terbaru

XL Axiata Dinilai Terapkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Techbiz.id - XL Axiata kembali meraih penghargaan dari public, terkait penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG)...

Artikel Terkait