Tuesday, March 9, 2021
Home Telco Belum Dapat Pendanaan, Kemenkominfo Diminta Batalkan SATRIA

Belum Dapat Pendanaan, Kemenkominfo Diminta Batalkan SATRIA

Must Read

Lewat Live Rooms, Instagram Kini Bisa Siaran Langsung Bareng 4 Orang

Techbiz.id - Instagram mulai menggulirkan fitur baru Live Rooms. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melakukan siaran langsung bersama dengan...

Tri Indonesia Pecepat Ekspansi Bisnis FamilyMart

Techbiz.id - Melalui unit bisnis 3Business, Tri Indonesia berkolaborasi dengan FamilyMart dalam mengakselerasi perkembangan ekosistem digital secara berkelanjutan di...

Naik Andong di Yogyakarta Bayar Pakai DANA

Techbiz.id - Melalui program QRIS Gumaton yang diprakarsai oleh Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), DANA menyediakan pembayaran digital...

Teradata Berikan Layanan Uji Coba Cloud Gratis

Techbiz.id - Penyedia platform data warehouse multi-cloud Teradata, mengumumkan ketersediaan Vantage Trial yang memberikan akses gratis selama 30 hari ke Teradata Vantage...

Jelang Peluncuran, Oppo Goda Kehadiran Find X3 Pro di Indonesia

Techbiz.id - Oppo baru saja menggoda kehadiran Find X3 Pro di Indonesia. Ponsel pintar yang diharapkan hadir pada 11...

Techbiz.id – Demi memenuhi komitment peluncuran Satelit Republik Indonesia (Satria) era Menkominfo Rudiantara, Kementrian Komunikasi dan Informatika terus berusaha untuk mencari pembiayaannya. Hal tersebut terkuak ketika rapat kerja Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate dengan Komisi I DPR-RI.

Menteri Johnny mengatakan, Kemenkominfo menargetkan financial closing selesai dilakukan kuartal pertama tahun 2020. Padahal financial closing pengadaan dan peluncuran seharusnya selesai pada akhir tahun 2019 yang lalu. Sehingga perakitan dapat dilakukan pada akhir Desember 2019 yang lalu.

- Advertisement -

Uchok Sky Khadafi, Direktur Center For Budget Analysis (CBA), mengatakan bahwa jika pemerintah tidak bisa mendapatkan pendanaan, sudah seharusnya Kemenkominfo membatalkan program satelit SATRIA yang dikelola oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) tersebut.

“Saya yakin dana USO yang didapatkan oleh BAKTI tidak mencukupi untuk membayar kewajiban pembiayaan satelitnya. Oleh sebab itu Kemenkominfo mencarikan pembiayaan. Jika memang ngak sanggup mencari dana mending dibatalkan saja proyek satelit BAKTI,”terang Uchok.

Lanjut Uchok, dalam menggelola satelit untuk daerah USO, seharusnya BAKTI yang mengambil peran lebih dengan memanfaatkan dana USO yang ada. Bukan malah menyerahkan kepada swasta dan membebankan kepada negara.

Logikanya jika BAKTI masih mencari investor untuk proyek SATRIA artinya ini adalah proyek yang ekonomis. Karena proyek ekonomis, seharusnya tidak layak dibiayai dengan dana USO. BAKTI jangan menyandera dan menjerumuskan Menkominfo dengan mencarikan pendanaan dari swasta yang akan membebani anggaran negara dikemudian hari.

“Pemerintah harusnya mengoptimalkan pendanaan dari dana USO yang ada. Sehingga tidak membebankan keuangan negara di masa mendatang. Jika ngak ada investor yang mau membayari investasi tersebut jangan dipaksakan. Mending dibatalkan saja,” pinta Uchok.

Dalam keterangan yang disampaikan Menkominfo di DPR disebutkan bahwa investasi (CAPEX) untuk pengadaan satelit SATRIA yang dimiliki oleh BAKTI menelan dana Rp 6,42 triliun. Sementara biaya ketersediaan layanan pertahunnya, BAKTI harus menggeluarkan dana paling tidak Rp 1,4 triliun. Agar satelit SATRIA ini dapat beroperasi memberikan layanan telekomunikasi, Kemenkominfo juga harus menggeluarkan biaya pengadaan ground segment yang jumlahnya 150 ribu unit. Biaya pengadaan ground segment ini sangat besar, bisa lebih dari 3 kali biaya ketersediaan layanan satelit, namun sayangnya hal ini tidak pernah diungkap secara terang benderang ke publik.

Data 150 ribu titik yang akan dihubungkan SATRIA masih belum divalidasi kebenarannya. Tidak ada koordinasi antara BAKTI dengan pihak calon pengguna SATRIA. Dengan masih mentahnya perencanaan BAKTI, bisa dipastikan utilisasi SATRIA akan sangat rendah. Sementara itu, Pemerintah diwajibkan membayar availability payment sebesar Rp 1,4 triliun per tahun selama 15 tahun kepada konsorsium pemenang proyek SATRIA. Beda cerita jika BAKTI menyewa kapasitas satelit sesuai kebutuhan, dimana pembayaran juga dilakukan sesuai dengan kapasitas satelit yang terpakai.

BAKTI harusnya bisa belajar dari proyek Palapa Ring yang telah mereka gelar di 57 Kabupaten/ Kota. Hingga saat ini, utilisasi Palapa Ring masih sangat rendah. Palapa Ring Barat hanya terutilisasi 27%, Palapa Ring Tengah baru terutilisasi 7,6%, sedangkan utilisaisi Palapa Ring Timur adalah 0%. Walaupun demikian, Pemerintah tetap harus membayar availability payment kepada konsorsium pemenang proyek Palapa Ring. Sudah jelas, ini adalah bentuk pemborosan APBN.

Skema pembayaran satelit SATRIA BAKTI melalui skema penggembalian investasi (availability payment) nilai investasi (CAPEX) dan biaya ketersediaan layanan dinilai Uchok sangat memberatkan keuangan negara.

Dengan financial closing yang gagal dirampungkan di akhir tahun 2019 dan ketidakjelasan rencana pemanfaatan SATRIA serta besarnya potensi pemborosan APBN, proyek SATRIA yang diinisiasi oleh BAKTI benar-benar telah menjadi bom waktu bagi Kemenkominfo di era kepemimpinan Johnny G Plate. Oleh karena itu, Kemenkominfo diminta bertindak tegas untuk membatalkan SATRIA.

Lanjut Uchok, jika Kemenkominfo tetap melanjutkan proyek ini, maka pemerintah akan dirugikan dan swasta yang akan diuntungkan. Pengamat anggaran pemerintah ini menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh BAKTI sangat aneh. Padahal disamping harga teknologi satelit semakin terjangkau kedepannya, BAKTI juga masih bisa memilih skema dimana negara hanya membayar sesuai kapasitas satelit yang terpakai.

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Rumor: Nokia Garap Smartphone Gaming G10

Techbiz.id - Nokia agaknya siap memulai awal baru tahun ini. Perusahaan dilaporkan siap membangun lini seri smartphone gaming pertama...

Artikel Terkait