Friday, May 7, 2021
Home News Mubazir, Menkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI

Mubazir, Menkominfo Diminta Tinjau Ulang Program Satelit BAKTI

Must Read

Belanja di Indomaret Kini Bisa Pakai ShopeePay

Techbiz.id - Sejak 28 April 2021 lalu, ShopeePay resmi tersedia sebagai metode pembayaran di Indomaret. Kemudahan pembayaran yang dihadirkan...

Radio Pita Ganda Tiga Sektor Ericsson Tingkatkan Kapasitas

Techbiz.id - Ericsson meluncurkan Radio 6626, radio pita ganda tiga sektor unik, untuk membantu para penyedia layanan meningkatkan kapasitas...

Twitter Rilis Spaces, Fitur Serupa Clubhouse

Techbiz.id - Usai diuji coba kepada sebagian pengguna, kini fitur Spaces yang serupa Clubhouse telah resmi dirilis bagi seluruh...

Cara Bikin Foto Yang Estetik di Sosial Media

Techbiz.id - Saat ini dunia fotografi semakin berkembang dan hampir bisa dilakukan oleh setiap orang. Kehadiran ponsel dengan kemampuan kamera...

5 Smartphone Xiaomi yang Lagi Diskon, Ada Potongan Rp500 Ribu!

Techbiz.id - Kabar baik bagi Kalian penggemar Xiaomi alias Mi Fans, karena Xiaomi memberikan diskon dan penawaran menarik untuk...

Techbiz.id – Teknologi telekomunikasi terus mengalami perkembangan. Tak terkecuali teknologi satelit. Setelah satelit geostasioner (satelit GEO) diluncurkan pada 4 Oktober 1957, perkembangan teknologi satelit pun terus berkembang pesat. Bahkan kini teknologi satelit Medium Earth Orbit (MEO) dan Low Earth Orbit Satellite (satelit LEO) sudah mulai dikomersialkan. Sedangkan High Altitude Platform System (HAPS) wahana baru ruang angkasa ini sudah mulai diujicoba. Teknologi ini menyediakan layanan wireless broadband mirip dengan satelit. Namun beroperasi pada ketinggian 5-20 km di lapisan stratosfer dan mampu menjangkau area seluas 1000 km persegi.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi memperkirakan wahana ruang angkasa dengan orbit rendah ini akan segera masuk ke Indonesia. Karena beroperasi di orbit rendah, cakupan layanan yang diberikan wahana ruang angkasa orbit rendah tidak sebesar GEO.

- Advertisement -

Meski cakupannya tak sebesar satelit GEO, namun HAPS, LEO maupun MEO dapat memberikan layanan broadband layaknya satelit GEO. Karena berada di orbit rendah, harga yang ditawarkan oleh teknologi terbaru ini jauh lebih murah ketimbang satelit GEO.

Karena benefit yang sama dan harga yang jauh lebih murah ketimbang GEO, diperkirakan teknologi terbaru mirip satelit ini bisa dimplementasikan di Indonesia, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi karena kendala geografis yang sulit.

Analogi sederhananya ibarat lampu-lampu yang menerangi suatu rumah. Jika ingin menerangi sudut ruangan, cukup menyalakan 1-2 lampu yang memancar ke sudut ruangan tersebut, tidak perlu menyalakan semua lampu yang mengakibatkan pemborosan..

Dengan benefit harga murah dan kemampuan memberikan layanan broadband tersebut, Heru yakin wahana ruang angkasa orbit rendah ini akan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan Proyek Satelit Multi Fungsi (SMF) Satelit Indonesia Raya (SATRIA) yang saat ini tengah digarap oleh Kominfo melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).

Satelit SATRIA yang dicanangkan oleh BAKTI menggunakan teknologi GEO. Dengan investasi yang sangat spektakuler mencapai Rp 21,4 triliun. Dana tersebut belum termasuk pengadaan ground segment dan backhaul.

“Menurut saya dengan adanya teknologi satelit yang baru dan semakin murah, seharusnya Menkominfo yang baru dapat segera meninjau ulang proyek satelit Satria. Dengan skema pembayaran availability payment sebesar Rp 1,38 triliun per tahun selama 15 tahun sangat tidak efisien dan tidak efektif. Bahkan cenderung pemborosan keuangan negara,”terang Heru.

Jika availability payment dalam pengadaan satelit SATRIA ini terus dipaksakan jalan dan tidak ditinjau ulang, Heru memperkirakan nantinya proyek yang digagas oleh Menkominfo Rudiantara ini akan membebani keuangan negara di masa mendatang.

Tak dipungkiri kebutuhan telekomunikasi menggunakan satelit di Indonesia masih dibutuhkan. Namun menurut Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) periode 2006-2009 dan 2009-2011 kebutuhan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan pembayaran dan kebutuhan masyarakat di daerah 3T.

Untuk melayani masyarakat di daerah 3T menurut Heru Pemerintah masih bisa menyewa dari operator satelit eksisting saja. Tidak perlu Pemerintah memiliki satelit dengan kapasitas besar dan harganya mahal.

Apalagi pendapatan BAKTI hanya berasal dari 1.25% pendapatan bersih operator yang besarannya tidak menentu. Jika pendapatan operator meningkat maka pendapatan BAKTI juga meningkat.

Namun sebaliknya jika pendapatan operator turun, maka pendapatan BAKTI turun. Dengan kondisi pendapatan BAKTI yang berfluktuatif dan tidak menentu tersebut, evaluasi terhadap proyek satelit SATRIA mutlak dilakukan oleh Menkominfo.

Terlebih lagi dari 150 ribu titik yang dijadikan target oleh Menkominfo periode Rudiantara, tidak semuanya masuk kriteria pengguna dana USO. Jika tidak ada evaluasi menyeluruh, Heru memperkirakan akan ada pemborosan keuangan negara dan inefisiensi penggunaan dana USO. Jika kapasitas lebih namun tidak ada orang yang memakai, maka akan mubazir.

“Harusnya jika satelit tersebut dipakai oleh Pemerintah Daerah, harusnya mereka menggunakan dana dari Kemendagri. Jika untuk rumah sakit, maka harus menggunakan dana Kemenkes. Bukan semuanya dibebankan ke dana USO. Evaluasi penggunaan dana USO harus segera dilakukan oleh Menkominfo Johnny G. Plate agar inefisiensi program MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan) tidak terjadi lagi,” pungkas Heru.

- Advertisement -

Artikel Terbaru

Realme Buka Empat realme Official Stores di 4 kota

Techbiz.id Tepat pada tanggal 8 Mei mendatang, realme kembali akan melakukan grand opening realme Official Stores di empat kota di Indonesia,...

Artikel Terkait