Friday, April 23, 2021
Home News Industri Telekomunikasi Perlu Waspada Hadapi 2021

Industri Telekomunikasi Perlu Waspada Hadapi 2021

Must Read

Polytron Sempurnakan Fitur Alat Masak Tiara Pot

Techbiz.id - Polytron menghadirkan generasi terbaru dari Tiarapot, dengan nama Tiarapot Pro PRC 501. Dengan penyempurnaan pada fiturnya, Tiarapot...

Mudik Dilarang, Tiket.com Ungkap Konsumen Booking Tiket Sebelum Larangan

Techbiz.id - Pemerintah resmi mengumumkan kebijakan larangan mudik tahun ini. Larangan itu tertuang dalam Surat Edaran Kepala Satgas Penanganan...

Instagram Lite Resmi Hadir, Apa Bedanya?

Techbiz.id - Instagram resmi merilis Instagram Lite di Indonesia. Aplikasi Instagram versi ringan ini hanya hadir khusus pengguna Android...

FE 14mm F1.8 GM, Lensa Ringkas dengan Angle Ultra-lebar

Techbiz.id - Sony Electronics Inc. semakin memperluas jajaran lensa E-mount-nya dengan memperkenalkan FE 14mm F1.8 GM (model SEL14F18GM) -...

Dijual Rp500 Ribu, Huawei Band 6 Resmi Meluncur di Indonesia

Techbiz.id - Huawei kembali menghadirkan perangkat baru. Gelang pintar bernama Huawei Band 6 dirilis secara daring di Indonesia, Jumat...

Techbiz.id – Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) mengungkap Tren yang bakal terjadi dalam industri telekomunikasi pada tahun 2021 dalam laporan ‘Indonesia ICT Industry Outlook 2021’.

Dalam laporannya tersebut, Mastel mengingatkan operator telekomunikasi untuk mewaspadai kompetisi tidak sehat yang terjadi saat ini.

- Advertisement -

Ketua Umum MASTEL Kristiono menjelaskan, meski diprediksi tumbuh 5,3% pada 2021, beban investasi berpotensi menghambat pertumbuhan industri. Saat ini, harga paket data di Indonesia hanya di kisaran USD0,4 per gigabit, menjadi yang terendah kedua di dunia. Padahal, peningkatan konsumsi rata-rata paket data mencapai 87% pertahun.

Pada gilirannya, kondisi ini akan menekan arus kas perusahaan dan berpotensi menggerus EBITDA margin yang turun 5% dibandingkan 10 tahun lalu. Return on Invested Capital juga menurun secara signifikan menjadi hanya 1% di 2019 dari sebelumnya 7% pada 2009.

“Tren seperti ini akan menghambat pembangunan infrastruktur yang sangat esensial untuk mengembangkan ekonomi digital,” ujarnya.

Di sisi lain, harapan baru dari Undang-Undang Cipta Kerja patut ditunggu. Undang-Undang baru ini akan mengatur ketentuan infrastructure sharing baik pasif maupun aktif serta menetapkan batas tarif bawah dan tarif atas. Jika berhasil diterapkan dengan baik, efisiensi investasi dan biaya operasional operator telekomunikasi bisa dicapai hingga naik 40% tanpa harus mengorbankan kualitas layanan.

Tren cerah diperlihatkan klaster industri platform dan aplikasi yang diprediksi tumbuh signifikan. Industri data center diperkirakan melonjak dua kali lipat dari total kapasitas 53 megawatt (MW) di 2020 menjadi 120 MW di tahun depan. Kendati demikian, industri cloud computing lokal justru kian mendung akibat persaingan ketat para pemain asing.

Hal senada juga akan terjadi di sektor internet of thing (IoT) yang diperkirakan mencapai 400 juta perangkat pada 2022 dengan pangsa pasar Rp444 triliun di Indonesia.

- Advertisement -

Artikel Terbaru

Huawei Tingkatkan Inklusi Digital di Indonesia

Techbiz.id - Huawei mendorong peningkatan inklusi digital di Indonesia melalui keempat pilar komitmennya yang bertajuk ‘Huawei I DO’, yaitu I...

Artikel Terkait