Sabtu, September 18, 2021
Beranda Column Menanti Reinkarnasi BRTI

Menanti Reinkarnasi BRTI

Artikel ini ditulis oleh Garuda Sugardo,(Anggota Wantiknas)

Must Read

4 Laptop Baru Meluncur di Acer Day 2020

Techbiz.id - Acara tahunan Acer Day kembali digelar. Walau berada di tengah situasi pandemi Covid-19, Acer tetap memamerkan jajaran...

Ibukota Baru dan Perbincangan Netizen

TechBiz - Presiden Jokowi telah mengumumkan kepastian mengenai pemindahan Ibukota pada 25 Agustus 2019 lalu. Tentunya, Banyak yang harus...

Di Program Lucky 8, Setiap Pembelian realme 8 dapat AIoT

Techbiz.id - Untuk menyambut kehadiran realme 8 di pasar smartphone Indonesia yang sudah bisa didapatkan secara offline besok, realme...

Mudah, Begini Cara Pindahkan Chat WhatsApp ke Telegram

Techbiz.id - Kebijakan baru WhatsApp justru menyebabkan banyak pengguna yang mencari alternatif aplikasi sejenis, seperti Telegram. Namun, sebagian dari...

Update Harga Samsung Galaxy A50s Juni 2020, Cuma Rp3 Jutaan!

Techbiz.id - Sudah setahun berlalu sejak Samsung merilis versi update dari Galaxy A50. Perangkat pintar bernama Samsung Galaxy A50s...

Kolaborasi dengan Alibaba, Starbucks Hadirkan Pemesanan via Perintah Suara

TechBiz - Starbucks melakukan terobosan besar dalam merevolusi pengalaman digital bagi para konsumen. Di Tiongkok, Starbucks meluncurkan pemesanan via...

Techbiz.id – Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) telah tiada. Berdasarkan Perpres No.112/2020, tanggal 26 November 2020, BRTI bersama 9 Lembaga Non-Struktural lainnya resmi dibubarkan.

Dibumikannya BRTI memang disayangkan pelbagai pihak; namun bila ditelaah pertimbangannya, seyogyanya kita layak memakluminya. Sepasang kata yang menghentikan langkahnya, adalah demi “efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan”.

Di negara maju dan penganut faham liberal sekalipun, badan regulasi masih berjaya dan berperan dalam pengaturan, pengawasan dan pengendalian pertelekomunikasian.

Blantika informatika tidak syak lagi adalah cabang industri yang padat teknologi, padat modal, padat karya, dan diakui sebagai peniscaya lahirnya kreativitas digital yang tanpa batas. Kompetisi sengit laksana perang antaroperator di negeri ini haruslah dikelola secara independen agar menjadi sebuah medan persaingan sekaligus ajang persandingan yang elegan. Badan regulasi harus hadir sebagai wasit dan pendulum keadilannya.

Baca juga: Ombudsman: Harus Ada Pengganti BRTI

Jujur, lembaga BRTI telah kehilangan elan karena dirinya sendiri. Betapa tidak? Mustahil Anda berharap hadirnya “independency on dependent officer”. Manakala ketua dan wakil ketua BRTI adalah para Dirjen di Kominfo, obsesi keindependenan itu sejatinya sudah selesai sejak periode menteri yang lalu.

Kagoknya lagi adalah pembenaran posisi rangkap jabatan sebagai komisaris di operator telekomunikasi. Akibatnya, sepak terjang BRTI yang amat disegani pada dekade yang lalu, menjadi kagok dan separuh kaku.

Dampaknya terasa di lapangan, BRTI jauh dari efektif dan para komisionernya (yang dipilih mewakili masyarakat) bagai pemain bola yang frustasi. Sebab itulah, sampai di tahapan ini, eksekusi penamatan tugas BRTI 100% sudah “tepat dan terukur”. Selamat jalan, BRTI.

Namun, bukalah mata, sistem telekomunikasi adalah jaringan ciptaan manusia yang paling luas sejagad raya. Dunia kini sudah dalam genggaman kita, seraya jangan lupa Indonesia tidak bernafas di ruang hampa. Regulasi telekomunikasi yang modern dan “independen” absolutely diperlukan, karenanya Perpres terkait pembubaran BRTI belumlah akhir dari sebuah perjalanan.

Indonesia dengan ekosistem multioperator, ada pemain BUMN, eksistensi investasi asing dan belanja pulsa masyarakat Rp200-an triliun, kini dituntut memenuhi komitmen Presiden tentang pembangunan infrastruktur, pembangunan SDM iptek, transformasi digital, industri 4.0, dan pengentasan kesenjangan akses internet. Semua wajib sukses hukumnya.

Di depan kita pun ada program prestise nasional untuk mewujudkan televisi digital, beserta ikutan spektrumnya untuk penggelaran seluler 5G dan pemassalan teknologi intelijen buatan.

Di sisi lain, sudah bawaannya bahwa telekomunikasi adalah industri yang spesifik, butuh scare resources, proses sharing dan interkoneksi yang khas dan unik tiada dua. Prasyaratnya terang benderang yaitu nondiskriminasi, independensi dan kolaborasi.

Ketiadaan regulatory body di tengah industri telekomunikasi dan informatika sungguh sebuah antitesa dari proses disrupsi transformasi digital 4.0 masa kini dan pasca pandemi.

Nah, sambil menunggu reinkarnasi “BRTI” yang ideal dan independen (?), kita ditantang berbuat sesuatu pada masa “transisi” ini. Peleburan fungsi eks BRTI ke dalam Kementerian Kominfo yang katanya tidak akan bermasalah, akan sangat efektif bila para pejabat pemangku regulatorinya sudi memilih; duduk hanya sebagai regulator atau komisaris.

Good corporate governance adalah pengejawantahan budaya “akhlak” insan telco digital. Capek kita bila harus beragumentasi tentang aturan jabatan rangkap yang menjadi referensinya. Tapi profesional sejati punya kalbu terpuji, di tempat mana bersemayam malaikat bernama hati nurani. An angel always doesn’t have conflict of interest.

Terkait

Artikel Terkait

Terbaru

Usung Kamera 50MP, Ini Harga Xiaomi Redmi 10

Techbiz.id - Xiaomi resmi merilis Redmi 10 di Indonesia secara virtual, Jumat (17/9/2021). Ponsel anyar Xiaomi ini hadir dengan...