Kamis, Desember 9, 2021
BerandaNewsIncar Sektor Keuangan, Masyarakat Diminta Senjatai Diri dari Serangan Siber

Incar Sektor Keuangan, Masyarakat Diminta Senjatai Diri dari Serangan Siber

Must Read

Techbiz.id – Sektor keuangan menjadi sasaran dari berbagai ancaman serangan siber. Jenis serangan yang selama ini dihadapi oleh sektor keuangan di Tanah Air, cukup beragam. mulai dari, ransomware, phishing, dan lainnya.

Menurut Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata, Mawidyanto Agustian, serangan siber ke sektor keuangan ini meningkat karena banyak orang yang bekerja dari rumah.

Sehingga banyak orang mengakses jaringan kantornya dari rumah, sementara perlindungan jaringan yang dimiliki cenderung kurang memadai.

“Banyak yang kerja dari rumah, jadi mereka bisa mengakses jaringan kantor. Bisa saja itu tanpa proteksi, yang kemudian jadi celah untuk serangan siber,” tambahnya.

Pada 2020, Agustian mengungkapkan, terjadi kenaikan sebesar 35 persen transaksi mobile banking di Tanah Air, dengan total transaksi mencapai Rp 3.349 triliun. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu Rp 2.493 triliun.

Baca juga: Perangkat Lunak Resmi juga Rentan Serangan Siber

Tahun lalu, BSSN juga mencatatat tren peningkatan jumlah nominal transaksi elektronik, dari total transaksi Rp 112,1 triliun pada 2019, menjadi Rp Rp 163,4 trilun pada 2020.

Berdasarkan data yang dimiliki Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerugian riil yang dialami bank umum pada semester satu 2020 hingga semester satu 2021 dilaporkan mencapai Rp 246,5 miliar. Sementara potential loss pada periode yang sama adalah Rp 208,4 miliar.

Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Mohammad Miftah menyampaikan, angka kerugian yang tak kalah signifikan juga dialami oleh pihak nasabah. Ia mengungkapkan, pada periede serupa, kerugian riil yang dialami nasabah mencapai Rp 11,8 miliar, dengan nilai recovery sebesar Rp 8,2 miliar.

Menurut Miftah, selama periode semester satu 2020 hingga semester satu 2021, terdapat 7.087 laporan kejadian fraud yang dilakukan dengan menggunakan siber. “Sekitar 71,6 persen.

Fraud yang terjadi adalah di bank umum pemerintah, disusul bank swasta sebesar 28 persen, dan bank asing sebanyak 0,3 persen,” ungkapnya pada diskusi virtual bertema, “Pentingnya Keamanan Siber untuk Ekonomi Digital Indonesia’.

Masyarakat Perlu Senjatai Diri

Maraknya serangan siber yang terjadi, OJK meminta masyarakat harus memiliki kesadaran soal keamanan keuangan digital di tengah kemajuan teknologi seperti sekarang. Untuk itu mutlak perlu adanya peningkatan edukasi.

Pandemi COVID-19 mengakibatkan peningkatan insiden siber di sektor keuangan termasuk phising attack, pharming, data harvesting malware, kebocoran dan pencurian data hingga penipuan daring.

Miftah mengungkapkan, masyarakat khususnya pengguna jasa keuangan digital harus melek akan informasi keamanan digital dan tidak bergantung pada penyedia jasa.

“Literasi bagi masyarakat perlu kita tingkatkan, istilahnya kalau mau aman ya harus melindungi diri sendiri juga, walaupun dari perbankannya sudah mem-block dan menjaga dengan security,” ujar Miftah

Miftah mengatakan serangan siber tidak bisa hanya dihadapi sendirian oleh satu badan otoritas saja namun diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak.

“Jadi memang untuk aman, bukan hanya pekerjaan dari industri dan regulasi tapi juga dari semua stakeholder terutama dari pengguna. Jadi harapannya transformasi layanan keuangan digital yang terus dilakukan, kata Miftah.

Sementara itu, terkait dengan pinjaman online (pinjol) ilegal, menurut Miftah, masyarakat harus mendapat edukasi yang jelas tentang efeknya. Pasalnya, selama ini pinjaman daring menawarkan sesuatu yang menggiurkan dengan memberikan kemudahan.

“Pinjol sebenarnya enggak jadi masalah, yang jadi masalah kan ilegal. Kesempatan pinjam ini langsung hadir di depan mata, sepertinya mudah walaupun nantinya ada efek yang lebih berat, itu yang enggak disadari,” ujar Miftah.

Lebih lanjut Miftah mengatakan, edukasi dan perlindungan konsumen pun sudah dilakukan dengan menyampaikan berita-berita mana yang ilegal dan segala macam, upaya kita adalah untuk mengedukasi masyarakat karena memang kuncinya di situ.

Terkait

Artikel Terkait

Catat Pertumbuhan Positif, Surge Fokuskan Tiga Hal

Techbiz.id - Dalam paparan publiknya PT Solusi Sinergi Digital Tbk (Surge) melaporkan kembali mencatatkan pertumbuhan positif di tengah tantangan...