Tuesday, October 27, 2020
Home Tips 5 Cara Hindari Peretasan Selama Pandemi

5 Cara Hindari Peretasan Selama Pandemi

Must Read

Grab Tawarkan 3 Solusi Baru untuk UMKM

Techbiz.id - Grab mengumumkan berbagai inisiatif dengan menawarkan 3 solusi baru untuk membantu UMKM agar bisa #TerusUsaha...

TokoKu Irma Sediakan Fasilitas Pembayaran Pay Later

Techbiz.id - Penyedia perangkat lunak IRMA resmi meluncurkan TokoKu, aplikasi yang menyediakan layanan Pay Later untuk dapat...

Bima Market Catat Peningkatan Selama Pandemi

Techbiz.id -Tri Indonesia mencatat peningkatan akses terhadap marketplace Bima market dimasa pandemic covid-19 ini.Setiap bulannya terjadi peningkatan...

Techbiz.id – Pandemi global COVID-19 telah mendorong pemanfaatan teknologi digital secara masif oleh pelaku bisnis maupun masyarakat umum

Tapi sayangnya disrupsi yang terjadi dalam bisnis juga meningkatkan risiko penipuan berbasis teknologi/ penipuan siber.

- Advertisement -

Hal ini didasari pada beberapa hal seperti banyaknya pekerja yang bekerja dari luar kantor menggunakan teknologi sehingga meningkatkan resiko keamanan siber dengan traffic yang berkali lipat.

Selain itu, stimulus bisnis berjumlah triliunan yang dikeluarkan untuk memutar kembali roda perekonomian di berbagai negara menimbulkan banyak celah untuk terjadinya fraud.

Berdasarkan penelusuran Cybernews, pencarian terkait hacking, scamming dan berbagai bentuk kejahatan siber lainnya meningkat pesat sejak Maret-Mei 2020.

Sejalan dengan data tersebut, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat kenaikan serangan siber selama pandemi di Indonesia hingga hampir enam kali lipat!

Grant Thornton, salah satu organisasi global terkemuka yang menyediakan jasa audit, tax, dan advisory baru-baru ini melakukan polling kepada 615 orang terkait latar belakang profesi seperti CFO, Controller, Akuntan, Auditor Internal, Analis Keuangan dan Tax Professional untuk melihat gambaran nyata kenaikan fraud selama pandemi.

Dalam survei tersebut terlihat 17% dari responden telah mengalami fraud sepanjang pandemic ini dan hanya 18% responden yang telah memiliki rencana penanggulangan fraud COVID–19 ini.

Mereka juga berpendapat ada 3 (tiga) peretasan yang dirasa paling berbahaya saat ini antara lain pengambilalihan akun, penipuan berbasis aplikasi serta ancaman dari orang dalam.

Memasuki masa new normal, Grant Thornton Indonesia memaparkan lima langkah yang akan membantu membendung risiko peretasan yang dihadapi perusahaan sebagai berikut:

Tentukan Pemimpin Keamanan Siber

Perlu menunjuk ahli anti-peretasan dalam perusahaan untuk memimpin tim ini. Orang tersebut harus memiliki akuntabilitas untuk semua program anti-peretasan terkait pandemi,mungkin saja orang atau tim tersebut bisa saja sudah menjadi bagian dari perusahaan namun pastikan bahwa ini bukanlah tugas biasa, karena mereka akan bertanggung jawab untuk beradaptasi dan melakukan eksekusi dengan cepat.

Perbarui Sistem

Kemungkinan akan terdapat banyak perubahan dalam proses bisnis untuk merespon secara cepat perubahan program pemerintah, peraturan, paket stimulus, faktor ekonomi, dan keputusan bisnis di tingkat eksekutif.

Sistem yang ada saat ini mungkin tidak relevan untuk mencatat data terkait prosedur baru. Rencanakan untuk melakukan penyesuaian maupun improvisasi dari sistem saat ini agar dapat berjalan sesuai proses yang baru.

Skema Peretasan

Dalam masa yang penuh ketidakpastian, akan sangat penting untuk proaktif dalam mengidentifikasi berbagai ancaman baru. Bentuk tim untuk mengevaluasi skema peretasan yang mungkin timbul dan kumpulkan informasi intelijen dari teman, regulator maupun mitra.

Berkolaborasi dengan tim keamanan siber juga direkomendasikan untuk menemukan berbagai sumber ancaman yang ada.

Teknik Deteksi Tanpa Pengawasan

Saat teknik pemodelan yang diawasi mungkin tidak menjadi terlalu akurat ketika perilaku berubah secara dramatis, pengaktifan metode yang tidak diawasi (otomatisasi) seperti deteksi anomali, analisa jaringan, dan sistemisasi pengaturan semuanya dapat memberikan penambahan nilai keamanan dengan cepat.

Iterasi dan Adaptasi

Deteksi peretasan bukanlah sebuah proses “set-and-forget” sehingga perusahaan harus tetap waspada terhadap ancaman siber yang dapat berevolusi dari waktu ke waktu.

Otomatisasi proses, peringatan untuk hibernasi serta berbagai metode lainnya dapat membantu tim anti-peretasan menangani peningkatan volume peringatan fraud yang mungkin mereka hadapi.

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia mengungkapkan “Berbagai indikasi menunjukkan penipuan siber memiliki risiko untuk terus meningkat beberapa bulan mendatang, bahkan saat memasuki fase new normal ini. Beberapa langkah perlu dilakukan agar perusahaan dapat menghadapi ancaman gelombang peretasan berikutnya, melindungi aset mereka secara keseluruhan, dan memastikan tersedianya sumber daya untuk menghadapi berbagai gangguan penipuan siber tersebut.”

“Meskipun sejak sebelum pandemi ancaman peretasan siber sudah terasa nyata, saat ini manajemen perusahaan perlu dua kali lipat lebih waspada dan memprioritaskan pembangunan sistem perlindungan yang memadai untuk menghindari ancaman kerugian yang lebih besar.” pungkas Johanna.

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

PVP Esport Gelar SuperGamerFest

Techbiz.id - PVP Esports mengumumkan penyelenggaraan perdana dari SuperGamerFest (SGF), festival virtual yang ditujukan untuk menghibur para gamer dan...

3 Syarat Wajib untuk Jadi Content Creator

Techbiz.id - Pandemi Covid-19 ini memunculkan peluang bagi pengguna smartphone di Indonesia untuk menjadi seorang content creator. Munculya peluang...

Solusi IoT Tingkatkan Kualitas Budidaya Ikan dan Udang

Techbiz.id - XL Axiata mengembangkang solusi IoT precision farming bernama “XL Smart Aquaculture” untuk meningkatkan kualitas budidaya ikan dan udang para petani...

Bima Market Catat Peningkatan Selama Pandemi

Techbiz.id -Tri Indonesia mencatat peningkatan akses terhadap marketplace Bima market dimasa pandemic covid-19 ini.Setiap bulannya terjadi peningkatan akses di Bima market sebesar...

Mengenal Spesifikasi Realme Narzo 20 Pro, Ponsel Gaming Rp3 Jutaan

Techbiz.id - Realme baru saja mengonfirmasi kehadiran Realme Narzo 20 Pro di Indonesia. Ponsel pintar itu diposisikan sebagai ponsel gaming Rp3 jutaan...
- Advertisement -

Artikel Terkait