Sabtu, Oktober 23, 2021
Beranda E-Commerce Penggunaan Social Commerce Naik 3 Kali Lipat Selama 2020

Penggunaan Social Commerce Naik 3 Kali Lipat Selama 2020

Must Read

TMI: Peluangnya Masih Bagus Untuk Bikin Startup

Techbiz.id - Venture Capiital Telkomsel Mitra Inovasi (TMI) menilai potensi startup Indonesia untuk berkembang masih sangat positif terlebih saat...

Update Harga Redmi Note 8, Cuma Rp1,5 Juta per Juni 2020

Techbiz.id - Jajaran Redmi Note termasuk smartphone Xiaomi paling laris di Indonesia. Ini juga berlaku pada Redmi Note 8...

Tokopedia dan Muslimat NU Jatim Bersinergi Dorong Ekonomi Digital Umat

TechBiz - Tokopedia, perusahaan teknologi Indonesia yang terus bertransformasi menjadi Super Ecosystem, mengumumkan kemitraan strategis dengan organisasi kemasyarakatan Muslimat...

Kementerian Pariwisata dan Blibli.Com Kembangkan Potensi Bisnis Pariwisata secara Online

TechBiz - Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan PT Global Digital Niaga (Blibli.com) menandatangani nota kesepahaman untuk mendukung program ‘Wonderful...

Daftar Paket Internet Murah XL Terbaru di 2021

Techbiz.id - XL memiliki beragam penawaran paket internet. Salah satunya adalah paket internet murah XL yang terbaru pada bulan...

Telkom Ungkap Rencana Investasinya di Bisnis Digital

Techbiz.id - Dalam pertemuan dengan analis saham, manajemen Telkom mengungkap rencana Telkom Group yang akan menggarap bisnis digital. BUMN Telekomunkasi...

Techbiz.id – Qiscus mengungkapkan adanya peningkatan yang signifikan, hingga tiga kali lipat, pada social commerce sepanjang tahun 2020. Lonjakan ini dimulai sejak awal kuartal 2 2020, yang merupakan fase awal Covid-19 masuk Indonesia, dan terus meningkat tajam hingga akhir kuartal 4 2020 dan awal 2021.

Pagebluk Covid-19 yang terjadi hampir sepanjang tahun 2020 di Indonesia membawa dampak yang serius di berbagai aspek perekonomian, terutama sektor retail. Di sektor ini, tekanan semakin tinggi seiring dengan penurunan permintaan konsumen yang mencapai 50%, sementara fixed cost tetap harus dibayarkan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyebutkan diperkirakan terdapat 20% peritel yang tidak dapat bertahan selama situasi pandemi, seiring ekstrimnya penurunan frekuensi aktivitas di luar rumah masyarakat. Perkiraan ini ditilik dari data tingkat hunian di pusat perbelanjaan yang menurun drastis dibandingkan situasi normal, yaitu hanya 70% – 80%.

Baca juga: Peta Persaingan E-commerce Indonesia, Siapa Juaranya?

Merespon situasi ini, banyak bisnis yang membuka channel penjualan mereka di platform online dan berinteraksi dengan konsumen melalui aplikasi chat sebagai alternatif untuk mendongkrak penjualan.

Hal ini divalidasi oleh catatan Badan Pusat Statistika (BPS) yang menyebutkan terdapat lonjakan penjualan online hingga 480% di tengah tahun lalu jika dibandingkan dengan awal tahun, dimana Covid-19 belum meluas ke Indonesia.

Data dari Qiscus juga menyebutkan jumlah pengguna platform chat untuk kebutuhan bisnis pada tahun 2020 juga mengalami peningkatan tajam hingga tiga kali lipat jika dibandingkan tahun 2019, dengan cakupan bisnis dari 23 industri dengan 13 use cases yang beragam.

Delta Purna Widyangga, CEO Qiscus menyebutkan kenaikan yang signifikan ini sesuai dengan hasil riset McKinsey yang dirilis pada masa awal Covid-19 merebak ke berbagai negara di dunia.

“Seperti riset yang dilakukan McKinsey, di satu sisi Covid-19 memang telah mengakselerasi proses transformasi digital kita. Dari yang tadinya diprediksi akan bertransformasi di lima tahun yang akan datang, menjadi hanya 8 minggu, terutama bagi konsumen dan pelaku bisnis. Tidak hanya di Indonesia, tapi di berbagai negara di dunia,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan delta, peningkatan tren social commerce, dengan chatting sebagai medium komunikasi antara bisnis dengan konsumen, hingga tiga kali lipat ini sangat masuk akal.

Delta juga mengungkapkan, seiring dengan pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama hampir setahun, berkomunikasi melalui medium chat bukan lagi menjadi sebuah keterpaksaan bagi konsumen, tapi sudah menjadi consumer behaviour yang baru, yang mempengaruhi Customer Experience (CX) ketika mereka bertransaksi dengan bisnis.

Bahkan sebelum Covid-19, berbagai riset menyebutkan chatting telah menjadi kebiasaan yang cukup familiar bagi masyarakat. Artinya di tengah situasi seperti sekarang, masyarakat sebagai konsumen hanya memperluas cakupan interaksi chatting-nya. Seperti sampai ke bertransaksi dengan bisnis, atau yang disebut sebagai chat commerce.

Terkait

Artikel Terkait

Terbaru

Selain Merger, Operator Harus Jadi Perusahaan Teknologi Biar Selamat

Techbiz.id - Sektor Telekomunikasi dianggap bisa menjadi industri pendorong pada program Transformasi Digital Nasional 2024 yang dicanangkan...