Kamis, Juli 18, 2024

Bitcoin Menguat Tipis, Altcoin Berpotensi Bangkit

Techbiz.id – Berdasarkan pantauan pada hari Selasa (23/5), Bitcoin (BTC) terlihat naik tipis 0,06% bergerak di kisaran US$26.810 dengan Total Market Cap pasar Aset Kripto juga menguat tipis sebesar 0,34% menjadi US$1.12 Triliun.

Pergerakan BTC cenderung terbatas disebabkan dari hasil pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dengan Ketua DPR AS dari Partai Republik Kevin McCarthy berakhir tanpa kesepakatan tentang bagaimana langkah untuk menghindari potensi default atau gagal bayar utang.

Data pemerintah AS menunjukkan, utang AS sudah menembus batas tertinggi sebesar US$ 31,46 triliun atau 137% dari produk domestik bruto (PDB) per Januari 2023. Hal ini  menyebabkan pemerintah AS tidak bisa menerbitkan obligasi lagi untuk membiayai belanja negara, termasuk membayar utang.

Saat ini, pemerintah serta Dewan perwakilan rakyat AS sedang berdiskusi untuk menaikkan plafon utang, menunda pembayaran utang, atau memangkas anggaran operasional negara agar terhindar dari ancaman gagal bayar. 

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan default dapat terjadi paling cepat 1 Juni 2023 jika plafon utang tidak dinaikkan. Kegagalan untuk mengangkat plafon utang akan memicu default yang akan mengguncang pasar keuangan dan mendorong suku bunga lebih tinggi dalam segala hal mulai dari pembayaran mobil hingga kartu kredit. 

Sebelumnya pada tahun 2011 dan 2013 silam AS pernah diguncang ancaman serupa. Namun, bisa dicegah dengan adanya penundaan pembayaran utang, kenaikan plafon utang, dan efisiensi anggaran pemerintah. 

“Karena Amerika Serikat tidak pernah mengalami gagal bayar utang sebelumnya maka akan sulit memprediksi bagaimana dampaknya ke pasar aset kripto seperti BTC. Namun, jika The Fed melakukan langkah mendorong suku bunga lebih tinggi, maka akan menyebabkan tekanan kepada aset kripto, khususnya BTC,” kata Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha.

Namun di sisi lain, survey Markets Live (MLIV) Pulse oleh Bloomberg yang dipublikasikan Senin (15/5/2023), menunjukkan bahwa BTC menjadi salah satu pilihan aset warga Amerika Serikat jika pemerintah AS gagal memenuhi kewajiban bayar utang. BTC menempati posisi ketiga dibawah emas dan treasuries. Sekitar 8% responden investor profesional dan 11% responden investor ritel mengatakan bahwa mereka berniat untuk membeli BTC sebagai lindung nilai utama mereka terhadap skenario gagal bayar utang. 

“Harga Bitcoin cenderung bergerak di kisaran USD26.600 – 27.800 pada pekan ini. Investor masih menunggu perkembangan lebih lanjut plafon utang AS dan risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal AS terbaru yang dijadwalkan pada hari Rabu untuk menganalisis kebijakan moneter yang akan diambil dan data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) di bulan April yang dirilis hari Jumat (26/5),” kata Panji Yudha.

Menurut CME FedWatch data Selasa (23/5), pasar menilai peluang 80,1% dari suku bunga dipertahankan stabil bulan depan. Sedangkan, terdapat peluang 19,9% dari kenaikan 25 basis poin. 

Selain itu, investor aset kripto juga dapat mempertimbangkan untuk masuk ke investasi altcoin sebagai alternatif investasi untuk pekan ini. Beberapa altcoin saat ini telah rebound dari area supportnya serta menunjukan tanda potensi berbalik arah dari bearish ke bullish. Dengan didukung juga oleh penguatan BTC sebagai aset kripto utama berpotensi akan memberikan imbas ke positif ke pergerakan altcoin. 

Baca juga:

Terkait

Artikel Terkait

Memajukan Potensi Digital Bersama Gerakan 100% untuk Indonesia

Techbiz.id - Akses internet merupakan salah satu sarana terbaik untuk membuka berbagai peluang baru bagi masyarakat. Tergantung bagaimana pemanfaatannya,...