Kamis, Juli 18, 2024

Bitcoin Berpotensi Bullish di Februari 2023

Techbiz.id – Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha memprediksi walaupun terjadi potensi kenaikan, pada Februari ini Bitcoin berpotensi untuk melanjutkan momentum bullish.

Poteensi bullish terhadap Bitcoin tersebut disampaikan Panji dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti kebijakan The Fed yang telah menaikkan suku bunga hingga tujuh kali telah berhasil menekan tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) yang mulai melandai ke level 6.5% pada Desember 2022. Investor akan mencermati tingkat inflasi AS pada Januari 2023 yang akan dirilis tanggal 14 Februari 2023 nanti dengan harapan inflasi dapat kembali melandai. 

Meredanya inflasi AS mendorong harga aset kripto Bitcoin dan Ethereum menguat signifikan, masing-masing 40% dan 30%, yang juga diikuti dengan mayoritas aset kripto lainnya. Kenaikan pada Januari 2023 ini memang cukup mengejutkan melihat secara data historis sejak tahun 2014 – 2022, Bitcoin cenderung bearish di setiap Bulan Januari. 

Selain itu, total kapitalisasi keseluruhan pasar aset kripto juga menguat hingga menyentuh $1.098,4 miliar yang juga merupakan level tertinggi dalam 24 minggu terakhir. Kenaikan tersebut terjadi setelah The Fed menaikan suku bunga 25 basis poin 4,5%-4,75%. Kenaikan suku bunga tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan lebih rendah dari kenaikan sebelumnya yang mencapai 50 basis poin.

Kenaikan suku bunga yang lebih rendah dapat menjadi sentimen yang positif bagi pergerakan pasar aset kripto. Pergerakan Bitcoin di setiap bulan Februari cenderung bergerak positif dengan kenaikan rata-rata di sebesar 12.11% dari tahun 2014 – 2022. Pergerakan harga aset kripto menguat 2,89% pada sepekan terakhir pada sepekan terakhir (30 Januari – 3 Februari 2023).

Tercermin dari tingkat kesulitan penambangan Bitcoin (mining difficulty) yang telah mencapai titik tertinggi pada hari Minggu (29/1), naik sekitar 4,68% dari 37,59 triliun pada menjadi 39,35 triliun (periode 16 Januari – 30 Januari). Mining difficulty adalah angka yang mewakili daya komputasi yang diperlukan untuk menambang satu BTC, yang diperbarui kira-kira setiap dua minggu. Mining difficulty menjadi lebih sulit ketika lebih banyak penambang memasuki jaringan dan lebih mudah ketika miners keluar dari jaringan.

“Walau berpotensi naik, kami menghimbau investor untuk tetap mengikuti perkembangan pasar mengingat aset kripto adalah salah satu instrumen investasi dengan volatilitas tinggi,” pungkasnya. 

Baca juga:

Terkait

Artikel Terkait

Memajukan Potensi Digital Bersama Gerakan 100% untuk Indonesia

Techbiz.id - Akses internet merupakan salah satu sarana terbaik untuk membuka berbagai peluang baru bagi masyarakat. Tergantung bagaimana pemanfaatannya,...