Tuesday, April 20, 2021
Home Fintech 3 Modus Penipuan Yang Sering Dilakukan Fintech Ilegal

3 Modus Penipuan Yang Sering Dilakukan Fintech Ilegal

Must Read

DJI Air 2S Dijual Eksklusif di Jaringan Ritel Erajaya

Techbiz.id - Melengkapi portofolio produk personal drone, Erajaya Group bersama DJI, menghadirkan DJI Air 2S. Drone kamera portabel ini...

7 Penawaran dari Tri Indonesia Buat Temani Puasa

Techbiz.id - Ramadan tahun ini Tri Indonesia memberikan keuntungan berlimpah dengan menghadirkan program #TriBerkahBerlipat dan mempersiapkan serangkaian ekosistem produknya...

Dinilai Ramah, Startup di Jakarta Punya Tantangan Sendiri

Techbiz.id - Enpact, organisasi non-profit dari Jerman yang fokus pada pemberdayaan wirausahawan, meluncurkan empower magazine yang berisi research-based review...

ShopeePay Berikan Cashback 30% untuk Pelanggan Viu

Techbiz.id - ShopeePay dan Viu bekerja sama memberikan kemudahan bagi jutaan pelanggan Viu di Indonesia dalam menikmati hiburan premium...

Indosat Ooredoo Jalankan Uji Coba OpenRAN di Jaringan 4G

Techbiz.id – Indosat Ooredoo menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menjalankan uji coba lapangan OpenRAN (Radio Access Network)...

Techbiz.id – Dalam situasi ekonomi sulit terutama karena adanya pandemi saat ini, masyarakat rentan menjadi korban penipuan seiring dengan meningkatnya praktik penipuan yang sangat merugikan.

Salah satu yang sering terjadi adalah mengaku sebagai marketing dari perusahaan  fintech lending dengan menawarkan pinjaman uang dengan jumlah tertentu.

- Advertisement -

Belakangan ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk selalu memanfaatkan layanan teknologi finansial pinjam meminjam atau fintech lending yang legal jika membutuhkan dana. 

Baca juga: Agar Tak Terjebak Fintech Ilegal, Begini Caranya

Co-Founder & CEO Investree sekaligus Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Adrian Gunadi, menjelaskan saat ini banyak oknum penipuan yang beraksi dengan memanfaatkan kondisi ekonomi yang sulit.

Kondisi tersebut membuat masyarakat menjadi mudah tergiur untuk mengambil tawaran yang sebetulnya direkayasa secara sengaja/sedemikian rupa sehingga berubah menjadi produk atau layanan yang menarik.

“Saya imbau masyarakat untuk berhati-hati dalam menerima tawaran dari perusahaan fintech lending karena sudah banyak dari kita yang yang menjadi korban penipuan mengatasnamakan fintech lending,” ujar Adrian. 

Modus penipuan Fintech Ilegal

Seiring dengan semakin maraknya aktivitas fintech lending yang tidak terdaftar maupun berizin di OJK, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan supaya tidak terjebak dan berurusan dengan layanan pinjaman fintech lending ilegal.

Dalam mencegah risiko penipuan, Adrian memberitahu beberapa modus penipuan  yang seringkali diakukan fintech ilegal, di antaranya: 

Modus Penipuan Fintech Ilegal

1. SMS blast

menawarkan pinjaman cepat, mudah, dan tanpa jaminan melaluiSMS blast dari nomor HP biasa. Isi dari SMS tersebut biasanya lugas menyebutkan “Butuh Dana Cepat Tanpa Agunan dan Bunga Rendah, Proses Cepat, dan Mudah Hubungi XXX”. Bila menerima SMS seperti ini, sangat diimbau untuk mengacuhkannya dan apabila mengganggu, masyarakat dapat melaporkan ke layanan FCC OJK di 1-500-655 atau pihak berwenang atau Kepolisian. 

2. Bunga rendah

menawarkan bunga sangat rendah adalah salah satu modus penipu untuk menggaet calon korban dan berujung pada mengikuti tawaran penipu. Perlu diketahui bahwa penetapan bunga pinjaman harus selalu mengikuti aturan dan mendapatkan persetujuan dari OJK. Saat ini, bunga yang berlaku di pasaran untuk pinjaman dari fintech berkisar antara16% hingga 30% per tahun untuk pinjaman produktif dan maksimal 0,8% per hari untuk pinjaman jangka pendek(payday loan)

3. Imbalan

apabila ada oknum yang menawarkan produk pinjaman dan salah satu syaratnya adalah harus membayar jumlah tertentu untuk memproses pengajuan pinjaman, hal itu patut dicurigai. Bahkan hampir bisa dipastikan itu adalah penipuan karena pegawai dari institusi keuangan dilarang untuk menerima imbalan apapun dari nasabah dan itu merupakan pelanggaran berat jika dilakukan. 

Ketiga modus tersebut menurutnya adalah yang paling sering dilakukan oleh para penipu dan sayangnya masih banyak masyarakat yang mengalami kerugian besar karenanya.

Jika masyarakat ingin mengajukan pinjaman baik untuk modal usaha maupun kebutuhan personal, sangat disarankan untuk meminjam melalui fintech lending legal yang sudah mendapatkan izin dari OJK dan merupakan anggota AFPI.

“Kami tegaskan bahwa perusahaan fintech lending yang terdaftar dalam keanggotaan AFPI harus taat kepada Kode Etik yg mengatur beberapa aspek operasional seperti batas bunga, cara penagihan, dan lain sebagainya. Apabila melanggar, akan dikenakan sanksi yang berat,” tutup Adrian. 

- Advertisement -

Artikel Terbaru

Bagikan THR, Tiket.com Berikan Diskon Hotel dan Pesawat Hingga 70%

Techbiz.id - Aplikasi penyedia jasa perjalanan online, Tiket.com tengah menggelar program diskon tahunan di bulan Ramadhan, yakni Tiket Hari...

Artikel Terkait