Selasa, September 28, 2021
Beranda News UKM Asia Tenggara jadi Sasaran Penambang Kripto

UKM Asia Tenggara jadi Sasaran Penambang Kripto

Must Read

Infobip Hadirkan Platform Komunikasi Pelanggan

Techbiz.id - Untuk membantu brand lebih memahami dan menjangkau konsumennya platform komunikasi cloud global Infobip meluncurkan Moments Inisiatif transformasi digital...

XL Axiata Perpanjang Sentra Vaksinasi Indonesia Bangkit

Techbiz.id - XL Axiata perpanjang program Sentra Vaksinasi Indonesia Bangkit di Depok. Dengan adanya perpanjangan ini, maka layanan vaksinasi drive...

Lemari Es Sharp Tawarkan 5 Perlindungan

Techbiz.id - Untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan makanan selama pandemi, Sharp Electronics Indonesia (SEID) mengadirkan lemari es satu pintu terbaru...

7 Tips Mengelola Keuangan Bagi Milenial saat PPKM Darurat

Techbiz.id - Generasi milenial di Indonesia merupakan salah satu kelompok masyarakat yang perlu mulai memprioritaskan untuk mengelola keuangan mereka...

Huawei dan Telkomsel Teken MoU Pengembangan SDM

Techbiz.id - Dalam pertemuan tingkat tinggi yang dilakukan oleh Huawei dan Telkomsel, kedua perusahaan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang...

Galaxy Watch 4 Bakal Didukung WearOS

Techbiz.id - Samsung Galaxy Watch 4 Series tampaknya segera menjadi salah satu jam tangan pintar penting selain Apple Watch....

Techbiz.id – Data statistik terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa ancaman terbesar dalam usaha kecil dan menengah (UKM) di Asia Tenggara adalah para penambang kripto (miners).

Hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2020, solusi Kaspersky telah menggagalkan lebih dari satu juta upaya penambangan terhadap perangkat bisnis di Asia Tenggara dengan jumlah karyawan sebanyak 20-250 orang. Ini 12% lebih tinggi dibandingkan dengan 949.592 insiden penambangan yang diblokir pada periode yang sama tahun lalu.

Jumlah total upaya penambangan yang terdeteksi pada kuartal pertama tahun ini juga secara signifikan lebih banyak dari 834.993 upaya phishing dan 269.204 deteksi ransomware terhadap UKM di wilayah tersebut.


“Kami tidak menyangkal fakta bahwa bahaya penambangan merusak lebih ringan dibandingkan dengan ransomware, pelanggaran data, dan sejenisnya, tetapi itu tetap merupakan risiko yang harus dipertimbangkan oleh sektor UKM secara serius” komentar Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky.

Para pelaku kejahatan siber di balik serangan ini menurutnya menggunakan sumber daya UKM itu sendiri, seperti listrik , bandwidth data, ke hardware perangkat yang tentu sama sekali tidak murah,

“Penelitian kami sebelumnya bahkan menemukan bahwa selama dua hari berturut-turut penambangan kripto menggunakan malware penambangan seluler dapat membuat baterai perangkat yang terinfeksi membengkak hingga mengubah bentuk ponsel secara fisik. Memanfaatkan yang sudah ada tanpa harus mengeluarkan biaya, begitulah cara kerja para penambang ilegal,” imbuhnya.

Penambangan kripto berbahaya, juga dikenal sebagai cryptojacking, yaitu serangan yang dapat menimbulkan kerugian baik langsung maupun tidak langsung bagi bisnis. Penambang kripto yang menginfeksi komputer pengguna pada dasarnya beroperasi sesuai dengan model bisnis yang sama dengan program ransomware: kekuatan komputasi target dimanfaatkan untuk memperkaya para pelaku kejahatan siber.

Selain bertambahnya substansial dalam konsumsi listrik dan penggunaan CPU, penambangan meningkatkan keausan pada perangkat keras dengan pemrosesan inti (processing core), termasuk yang berada di dalam kartu grafis diskrit, yang bekerja keras untuk menambang kripto yang sudah rusak.

Bandwidth yang terbuang juga mengurangi kecepatan dan efisiensi beban kerja komputasi yang sah. Selain itu, malware cryptojacking dapat membanjiri sistem, menyebabkan masalah kinerja yang cukup merusak, dan memiliki efek langsung pada jaringan bisnis hingga pada akhirnyaberpengaruh pada pelanggan mereka.

Data Kaspersky lebih lanjut mengungkapkan bahwa Indonesia dan Vietnam menjadi negara di Asia Tenggara dan secara global memiliki upaya penambangan kripto tertinggi terhadap UKM. Sebagian besar dari enam negara di kawasan ini, kecuali Filipina dan Thailand, juga telah mencatat peningkatan dalam hal deteksi malware ini pada kuartal pertama tahun 2020.

Melengkapi lima negara dengan upaya cryptojacking terbanyak adalah Federasi Rusia, Brasil, dan Republik Islam Iran.

Terkait

Artikel Terkait

Terbaru

Vivo X70 Pro Siap Hadir di Indonesia

Techbiz.id - Vivo X70 Pro dipastikan akan segera menyambangi pasar smartphone Indonesia. Hal ini diumumkan langsung oleh Vivo Indonesia,...