Thursday, December 3, 2020
Home News Kominfo Jelaskan Alasan Penerapan Network Sharing

Kominfo Jelaskan Alasan Penerapan Network Sharing

Must Read

Evercoss Tera Hadir dengan Layar Lebar untuk Belajar Online

Techbiz.id - Evercoss kembali meluncurkan smartphone terbarunya, EVERCOSS TERA yang memiliki layar super lebar untuk menunang pembelajaan...

SURGE Siapkan Internet Gratis di Ruang Publik

Techbiz.id - Untuk mengurangi kesenjangan akses internet berkualitas dan terjangkau, SURGE sedang mengembangkan jaringan internet gratis untuk...

Grab Ajak Pengguna Kurangi Jejak Karbon

Techbiz.id - Grab berinisiatif mengurangi dampak pemanasan global lewat kolaborasi dengan BenihBaik dan WRI Indonesia dalam meluncurkan...

Techbiz.id – Dalam UU Cipta Kerja Sektor Telekomunikasi disebutkan bahwa Pemegang Perizinan Berusaha terkait penggunaan spektrum frekuensi radio dapat melakukan kerjasama penggunaan spektrum frekuensi radio untuk penerapan teknologi baru.

Pada rapat terbuka di Badan Legislasi DPR RI beberapa waktu yang lalu, Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ahmad M. Ramli menegaskan bahwa, kerjasama penggunaan spektrum frekuensi dalam UU Cipta Kerja hanya dipergunakan untuk penggunaan frekuensi radio yang berorientasi forward looking seperti teknologi 5G. Bukan teknologi yang sudah diimplementasikan.

- Advertisement -

Lanjut Ramli di rapat Badan Legislasi DPR RI alasan pemerintah membuka peluang kerjasama penggunaan spektrum frekuensi di teknologi 5G bukan tanpa alasan. Penerapan teknologi 5G dalam industri telekomunikasi membutuhkan frekuensi radio yang lebih besar dibandingkan teknologi telekomunikasi sebelumnya yang sudah diimplementasikan, seperti layanan 2G, 3G dan 4G.

Baca juga: Network Sharing dalam Omnibus Law untuk Teknologi 5G

“Karena frekuensi radio merupakan sumberdaya alam yang sangat terbatas maka dari itu pemerintah ingin pemanfaatannya jauh lebih optimal. Pemerintah menilai teknologi telekomunikasi 5G membutuhkan kebijakan kerjasama penggunaan frekuensi radio. Presiden Joko Widodo sangat menginginkan industri digital nasional tumbuh,” terang Ramli.

Senada dengan Ramli, menurut Ketua Bidang Infrastruktur Broadband Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), Nonot Harsono, teknologi baru yang dimaksud dalam UU Cipta Kerja tersebut sejatinya adalah teknologi seluler yang belum pernah dideploy (belum pernah diimplementasikan sebelumnya).

“Kriteria teknologi baru itu berarti yang belum dideploy. Kalau sekarang sudah ada generasi keempat (4G) berarti yang belum ada itu generasi kelima (5G) atau loncat ke enam (6G). Jadi teknologi baru itu untuk 5G dan berikutnya,” ungkap Nonot.

Dijelaskan Nonot, secara teknis ada kebutuhan yang besar akan frekuensi untuk teknologi 5G. Minimal 100 MHz untuk dapat merasakan the real 5G. Padahal frekuensi yang dimiliki oleh 6 operator selular di Indonesia sangat kecil dan tidak memadai.

- Advertisement -
- Advertisement -

Artikel Terbaru

Jelang Akhir Tahun, Telkomsel Ajak Penggunanya Tukar Poin

Techbiz.id - Menjelang perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, Telkomsel kembali memberikan program spesial kepada seluruh...

Evercoss Tera Hadir dengan Layar Lebar untuk Belajar Online

Techbiz.id - Evercoss kembali meluncurkan smartphone terbarunya, EVERCOSS TERA yang memiliki layar super lebar untuk menunang pembelajaan online. Sistem...

Oppo Siapkan Reno5 untuk Pasar Indonesia

Techbiz.id - Sukses dengan perangkat Reno4 Oppo kini tengah menyiapkan suksesor dari perangkat yang telah menyumbang pangsa pasar terbesar bagi Oppo tersebut.

Kofax Tawarkan Automasi Cerdas Penanganan Utang Dagang

Techbiz.id - Pemasok perangkat lunak Automasi Cerdas, Kofax mengumumkan inovasi berkelanjutan di seluruh portofolio solusi tagihan dan utang dagang miliknya, yang sekaligus meningkatkan...

BCA Kembali Gelar SYNRGY Academy

Techbiz.id - Setelah sukses dengan Batch 1 yang melahirkan 36 talenta digital, kini BCA menghadirkan SYNRGY Academy Batch 2 yang akan di...
- Advertisement -

Artikel Terkait