Kamis, Juli 18, 2024

Training Red Hat Mampu Hasilkan ROI 365 Persen

Techbiz.id – Berdasarkan hasil studi terbaru yang bertajuk “The Business Value of Red Hat Training” IDC mengungkap manfaat signifikan dari training yang diselenggarakan Red Hat.

Studi tersebut menyebutkan bahwa training yang diselenggarakan tersebut, mampu mencapai return on investment (ROI) rata-rata tiga tahun sebesar 365 persen.

Selain itu, studi tersebut menemukan bahwa perusahaan akan mengalami peningkatan produktivitas tim DevOps, pemasangan sumber daya TI baru yang lebih cepat, dan tim infrastruktur TI yang lebih efisien melalui program Training dan Sertifikasi Red Hat.

Untuk studi ini, IDC mengeksplorasi value dan manfaat yang didapatkan oleh perusahaan/organisasi yang memiliki tim TI yang beragam, saat mereka menyelesaikan kursus training Red Hat melalui program Training dan Sertifikasi Red Hat.

Baca juga: Red Hat Akuisisi Perusahaan Keamanan Kubernetes

Studi ini melibatkan para pemimpin TI di berbagai perusahaan berskala besar, yang mencakup berbagai industri dan negara. Rata-rata, responden mengirimkan 302 stafnya untuk mengikuti total rata-rata 363 kursus Red Hat setiap tahun.

“Saat perusahaan/organisasi makin menimbang-nimbang ke mana mereka menginvestasikan anggarannya, studi yang disponsori oleh Red Hat ini menemukan bahwa meningkatkan porsi anggaran transformasi digital yang biasanya dialokasikan sebesar 5 persen untuk training, menjadi 6,5 persen, dapat meningkatkan peluang mencapai target bisnis dari 50 persen menjadi lebih dari 80 persen,” kata Ken Goetz, Global Vice President of Core Services at Red Hat.

Training Red Hat

Melalui training, value tahunan yang bisa diraih adalah rata-rata USD43.800 per karyawan yang dilatih, atau setara dengan USD5,71 juta per perusahaan. Staf TI yang terlatih akan menghasilkan produktivitas, mitigasi risiko, dan penghematan biaya infrastruktur TI yang lebih besar.

Terkait dengan proses kerja, kesiapan kerja akan meningkat 76 persen ketika anggota tim yang baru terlebih dahulu menyelesaikan training Red Hat, dibandingkan 55 persen yang didapatkan kala mereka baru di-training dalam proses bergabung.

IDC memproyeksikan bahwa perusahaan/organisasi akan membuat lebih dari 500 juta aplikasi baru secara global pada tahun 2023. Untuk mencapainya, organisasi TI perlu melatih tim pengembangan agar menghasilkan aplikasi dan fitur-fitur yang lebih tepat waktu, kuat, dan berbeda dari yang lain.

Hadirnya training dari Red Hat menjadi relevan pada masa kini di mana bisnis di seluruh dunia beralih ke sistem bekerja jarak jauh pada tahun 2020. Perubahan sistem kerja ini membuat tim TI mendapat tekanan dalam cara mengelola dan, dalam beberapa kasus, membangun kembali jaringan mereka. Mereka juga harus mempercepat transformasi digital dan strategi cloud agar bisa memenuhi kebutuhan yang terus berkembang. Hal ini menimbulkan tantangan.

Perusahaan/organisasi menghadapi lonjakan permintaan user support, meningkatnya ancaman keamanan, dan semua harus dihadapi dengan interaksi di lokasi (on-site) yang lebih sedikit. Selain masalah-masalah tersebut, beberapa tim juga menghadapi masalah defisit kapasitas dan keahlian (skillset).

Kemampuan untuk mengimbangi kecepatan perkembangan teknologi bukanlah hal baru bagi tim TI. Namun, keberadaan tool dan pendekatan yang tradisional menjadi kurang efektif ketika pekerjaan dilakukan dari jarak jauh. Hal ini menunjukkan pentingnya training perangkat lunak (software) untuk peningkatan keterampilan TI. Dengan melakukan training, para pemimpin TI dapat menjembatani kesenjangan keterampilan dan memastikan tim mereka dapat memenuhi kebutuhan teknologi yang terus berkembang.

Terkait

Artikel Terkait

Memajukan Potensi Digital Bersama Gerakan 100% untuk Indonesia

Techbiz.id - Akses internet merupakan salah satu sarana terbaik untuk membuka berbagai peluang baru bagi masyarakat. Tergantung bagaimana pemanfaatannya,...