Senin, Januari 17, 2022
BerandaNewsTahun 2022 Jadi Golden Momen Pertumbuhan Ekonomi Digital

Tahun 2022 Jadi Golden Momen Pertumbuhan Ekonomi Digital

Must Read

Techbiz.id – Tahun 2022 diperkirakan bakal menjadi golden momen Indonesia untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi digital.

Dalam ajang Digital Industry Forecast (DIECAST) 2022, Trends & Business Strategy sesi 1 yang mengambil tajuk Meraih Pertumbuhan Ekonomi Digital 2022 yang digelar Techbiz.id, David Sumual, Ekonom BCA menyampaikan bahwa ekonomi digital Indonesia telah menjadi salah satu yang tertinggi dan memiliki pertumbuhan terpesat di lingkup wilayah ASEAN.

Dari sisi ekonomi bisa dilihat sebelum pandemi Covid-19, growth Indonesia sudah tertinggi dan tercepat di ASEAN, dimana sektor e-commerce saja Indonesia tumbuh 88%, diikuti Vietnam hanya 81%, Thailand 54%, Filipina 47% Malaysia 35%, kata David, secara virtual Rabu (12/1).

Lebih lanjut, di masa pandemi nyatanya juga telah memicu geliat di sektor digital masyarakat secara luas, David menceritakan dimana ada sekitar 37% pengguna jasa ekonomi digital baru di 2020, 93 pengguna jasa ekonomi digital tersebut bahkan berencana akan terus menggunakan cara-cara digital tersebut setelah Covid-19 berakhir.

Dan 56% dari pengguna jasa ekonomi digital tersebut tinggal di area non-urban. Catatan menariknya pula ekonomi digital di Tanah Air tumbuh positif di tengah krisis pandemi sebesar 11%, sambungnya.

Hal positif tersebut juga sejalan dengan laporan e-Conomy SEA 2021 yang disusun oleh Google, Temasek Holdings dan Bain & Co, yang dimana nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 70 miliar dolar AS di tahun 2021.

Baca juga: Implementasi 5G di Indonesia Bisa Lebih Cepat, Ini Syaratnya

Laporan yang sama juga memprediksi ekonomi digital Indonesia akan terus tumbuh hingga mencapai nilai US$330 milar pada tahun 2030, menjadikan Indonesia salah satu pusat ekonomi digital terbesar di dunia.

Kendati mengesankan, ada catatan penting yang musti diperhatikan. David menegaskan di sekot tenaga kerja lokal kompetensi perlu ditingkatkan.

“Kita perlu strategi dalam hal ini, Covid-19 memang men-digitalisasi dan menciptakan disparitsa meningkat, ini sudah di sadari oleh lembaga global sekelas Word Bank.  Negara perlu menyadari  sektor human capital perlu kita benahi secara bersama, jika itu tidak siap maka percepatan teknologi menjadi beban. 20 tahun kedepan demografi masyarakat produktif kita  bakal besar, jika itu tidak dilengkapi dengan skill mumpuni bisa jadi lost generation,” tuturnya.

Sementara itu, Heru Sutadi Pengamat Industri Digital pun juga mencatat, ada sejumlah tantangan guna menghantarkan ekonomi digital Indonesia untuk tumbuh gemilang di 2022.

“Yang pertama perlu memahami ekonomi digital itu sepeti apa,  di dalamnya itu ada proses, device-nya seperti apa, ada soal keamanan data, pertukaran data yang beberapa tahun terakhir saya khawatir, karena data pribadi kita bolak balik bocor yang berisikan informasi sensitif,” keluh Heru.

“Lalu PR kita, dari sisi bisnis industri dalam negeri harus dikedepankan, produk di e-commerce kan ramai tuh, produk luar negeri kabarnya kuasai 80-90%, sisanya 20% produk dalam negeri. Tinggal gimana kita memikirkan supaya produk dalam Tanah Air jadi yang 80% itu. Jangan sampai kita jadi seperti sales produk-produk mereka, ” tutur Heru.

Perkuat infrastuktur telekomunikasi

“Dari sisi infrastruktur juga demikian, baginya minimal internet di Tanah Air bisa semakin cepat, pasalnya posisi Indonesia cukup terbelakang di Asia, yang di urutan bawahnya ada Myanmar, Kamboja, Laos. Jangan sampai mereka mendahului kita. Toh, duluan kita yang membangun ketimbang negara-negara tersebut,” ungkapnya.

Disamping itu pada kesempatan yang sama, Syahrial, Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) pun menekankan pada sektor infrastuktur guna menunjang ekonomi digital bergerak dengan baik ke depan.

“Kita juga berharap adanya kemudahan dalam penggelaran jaringan telekomunikasi, peran pusat dan daerah mejadi penting guna memfasilitasi pengembangan tersebut, kalaupun muncul biaya perlu terjangkau.” paparnya.

“Kita sudah diskusi panjang sejak 2018 hingga saat ini, soal peraturan daerah yang menghambat gelaran infrastruktur jaringan tersebut,” sambung Syahrial.

Sementara itu Edi Sugianto, Chief Commercial Officer PT.Dwi Tunggal Putra (DTP) menyebut pihaknya juga sangat fokus untuk menghilangkah blankspot di seluruh wilayah Indonesia melalui fasilitas portal jaringan satelit OneWeb (perusahaan jaringan komunikasi global yang didukung oleh 648 konstelasi satelit orbit rendah Bumi)

Kami (DTP) fokus di IT infrastuktur, seluruh target transformasi baik itu yang berbasis artificial intelligence (AI), virtual reality (VR), augmented reality (AR) tidak akan tercapai tanpa infrastruktur yang memadai. Moto kami memeratakan konektivitas telekomunikasi di seluruh Indonesia, kami berupaya untuk menjebati Tanah Air untuk blank spot free, tandasnya.

Terkait

Artikel Terkait

Selain OpenSea, Ini 5 Situs Jual Beli NFT untuk Raup Cuan

Techbiz.id - Popularitas Non Fungible Token (NFT) kian memuncak di Indonesia. Hal ini terjadi berkat Ghozali Ghozalu, pemuda asal...