Sabtu, September 18, 2021
Beranda Market Update Konsumen Digital Indonesia Dominasi 68% Populasi

Konsumen Digital Indonesia Dominasi 68% Populasi

Must Read

Menkominfo Jalani Pemeriksaan Covid-19

Techbiz.id - Sebagai upaya mendeteksi potensi tertular Virus Corona (Covid-19), Minggu (15/03/2020), Menteri Komunikasi dan Informatika RI Johnny G....

ROG Born Champions Hadirkan Laptop Bertenaga Ryzen 5000

Dalam acara bertajuk “ROG Born Champions” ASUS akan mempersembahkan lini laptop gaming ROG yang telah ditenagai oleh prosesor AMD...

Ponsel Pertama Leica, ‘Leitz Phone 1’ Resmi Dirilis

Techbiz.id - Brand asal Jerman, Leica, telah lama berkolaborasi dengan Huawei sebagai partner dalam perangkat besutan Huawei. Namun kini,...

Harganya Rp1 Jutaan, Ini Spesifikasi Tecno Spark 7 Pro

Techbiz.id - Tecno Mobile secara resmi meluncurkan ponsel Spark 7 Pro di Indonesia. Menyasar kalangan muda, ponsel ini dibekali...

Lenovo Resmi Hadirkan Legion Slim 7i, Laptop Gahar dengan Bodi Tipis

Techbiz.id - Lenovo resmi menghadirkan laptop gaming Legion Slim 7i di Indonesia secara daring, Jumat (5/2/2021). Membawa tagline 'Stylish...

Huawei Buka Tempat Pelatihan TIK Terlengkap di Asia Pasifik

Techbiz.id - Huawei ASEAN Academy (Indonesia) Engineering Institute resmi dibuka di Indonesia. Menempati area seluas 2 (dua) hektar, Huawei...

Techbiz.id – Berdasarkan studi yang berjudul Digital Consumers of Tomorrow, Here Today melaporkan bahwa konsumen digital Indonesia mendominasi 68% populasi pada 2020.

Konsumen digital di Indonesia dilaporkan telah tumbuh dari 119 juta, 58% dari total populasi pada 2019, menjadi 137 juta pada tahun 2020 ini.

Dalam laporan yang dibuat oleh Facebook dan Bain & Company ini juga menyebutkan antara 39% hingga 49% konsumen digital Indonesia membeli secara online di beberapa kategori.

Baca juga: Transaksi E-Commerce Meningkat 22% di Akhir 2019

Kategori yang menjadi paling sering dibeli dalam tiga bulan terakhir adalah bahan makanan dalam kemasan, bahan makanan segar, dan minuman non-alkohol.

Studi ini juga menunjukkan potensi yang sangat besar untuk membangun loyalitas dan pertumbuhan merek karena pasar e-commerce masih terbagi-bagi.

Pada tahun 2020, konsumen digital di Indonesia mengunjungi 5.1 situs online sebelum membuat keputusan pembelian, sebuah  peningkatan yang mencolok dari rata-rata 3.8 situs pada 2019.

Alasan utama yang mendasari perilaku ini adalah konsumen mencari ketersediaan produk yang lebih baik (37%) dan harga produk yang lebih terjangkau (35%). Selain mengunjungi lebih banyak situs, 45% konsumen Indonesia juga mengganti merek yang paling sering mereka beli. 

Fase pencarian menjadi tahapan yang sangat penting karena 61% konsumen di Indonesia mengatakan bahwa mereka masih tidak tahu apa yang ingin mereka beli ketika berbelanja online.

Sementara itu 53% (dibandingkan dengan 50% di tahun 2019) mengatakan bahwa mereka mengenal tentang produk dan merek baru melalui platform media sosial, video pendek, dan perpesanan (12%). 

Konsumen digital yang disurvei dalam laporan ini adalah mereka yang telah melakukan transaksi online setidaknya untuk 2 kategori produk dalam 3 bulan terakhir. 

“Satu dekade terakhir ini adalah tentang bagaimana menghadirkan konsumen di ranah online. Hari ini, dengan perpindahan konsumen digital yang pesat dari offline ke online, ditambah dengan perkembangan kebiasaan konsumsi dari rumah, ” ujar Pieter Lydian, Country Director untuk the Facebook Company di Indonesia.

Lebih lanjut disampaikan Pieter akan lebih banyak merek yang mengubah model bisnisnya lebih dari “omni-channel” untuk memenuhi kebutuhan konsumen di mana mereka berada.

“Kuncinya adalah bisnis perlu menyesuaikan tren konsumen masa kini yang akan terus membentuk tatanan kebiasaan baru,” imbuh Pieter. 

Selanjutnya, laporan ini menemukan bahwa perusahaan penyedia modal untuk investasi di Asia Tenggara mencapai rekor USD8,7 miliar untuk modal yang tidak terpakai pada akhir 2019.

Hal ini jelas menghadirkan peluang bagi perusahaan rintisan teknologi di Asia Tenggara untuk mengumpulkan lebih banyak dana, bertumbuh, dan bersaing dalam skala yang lebih besar.

Baca juga: Pandemi Covid-19: E-Commerce Menuai Berkah

Laporan ini menunjukkan bahwa disrupsi mungkin lebih terlihat pada sektor kesehatan, pendidikan, dan hiburan online lantaran konsumen secara bertahap menyesuaikan diri dengan gaya hidup konsumsi dari rumah seperti kegiatan pembelajaran di rumah, telemedicine, dan peningkatan preferensi terhadap online gaming dan live streaming. 

Menurut Edy Widjaja, Partner dari Bain & Company, Indonesia adalah negara yang dinamis dan tengah bertumbuh pesat untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi digital secara regional.

“Jumlah konsumen digital Indonesia telah tumbuh secara eksponensial dan kebiasaan konsumsi mereka membentuk norma baru saat ini. Melihat ke masa depan, belanja online diperkirakan akan meningkat hampir tiga kali lipat pada 2025 dan mencapai nilai hampir USD72 Miliar,” ujarnya. 

Terkait

Artikel Terkait

Terbaru

Masuk Indonesia, Tablet Xiaomi Pad 5 Dijual Rp 5 Juta

Techbiz.id - Selain Redmi 10, Xiaomi juga merilis tablet Pad 5 di Indonesia secara virtual, Jumat (18/9). Perpaduan antara...